Friday, August 22, 2008

Kelebihan Lailatu Qadar

Jumaat 22 Ogos 2008/20 Syaaban 1429

Tinggal 10 hari lagu puasa tahun ini.

Kelebihan Lailatul Qadar

Bulan ramadhanmempunyai kelebihan serta keberkatan iaitu di dalamnya terdapat satu malam yang lebih baik daripada seribu bulan. Bulan yang Allah btelah menjadikan puasanya satu fardhu dan mendirikan ibadat terutama solat di malam harnya satu amaln sunat.

Siapa memndekatkan dirinya kepada Allah dengan suatu maamaln kebajikan di dalamnya (ramadhan) samlah dia dengan orang yang menunaikan suatu fardhu di bulan yang lain dan siapa yang menunaikan satu fardhu di dalamnay samalah dia dengan orang yang menunaikan 70 fardhu di bulan yang lain, sedang dia adalah bulan sabar, sedangkan sabar itu pahalanya syurga; juga dia bulan yang memberkan pertolongan. Di samping itu dia adalah suatu bulan di mana Allah menambahkan rezeki para mukmin di dalamnya; Siapa memberi makannan berbuka di dalamnya kepada orang yang betpuasa, adalah yang demikian meruupakan pengampunan bagi dosanya dan kemerdekaan dirinya dari iksaan Neraka.Seterusnya rang yangmemberikan makanan berbuka puasa baginya pahala seperti pahala orang yang menmgerjakan puasa itu, tanpa dikurangkan sedikit pun.

PENCARIAN Lailatul Qadar pada malam sepuluh terakhir Ramadan masih belum berakhir dan umat Islam digalakkan supaya terus mengimarahkan adalah malam akhir bulan Ramadan dengan memperbanyakkan ibadat kepada Allah SWT.

Gandaan pahala melakukan amal ibadat pada malam berkenaan dikatakan mempunyai nilaiannya lebih 29,500 kali ganda kerana ganjaran pahala beribadat pada malam itu adalah lebih banyak dan baik melebihi seribu bulan.

Kebesaran Lailatul Qadar adalah berdasarkan dua perkara. Pertamanya, kerana pada malam itu diturunkan al-Quran dan keduanya, malam itu akan turun malaikat dalam suatu angkatan yang besar, penuh gilang gemilang untuk memberi taufik dan hidayah kepada orang berpuasa dengan ikhlas.

Disebut sebagai Lailatul Qadar kerana pada pada malam itu akan turun malaikat untuk mengucapkan salam sejahtera kepada seisi penduduk bumi. Ia juga dikenali dengan nama Lailatul Syaraf bermaksud malam kemuliaan dan Lailatul Tajalli yang bermakna malam Allah SWT melimpahkan cahaya dan hidayah-Nya kepada orang yang berpuasa dan beribadat pada sebelah malamnya.

Penentuan tarikh dan malam sebenar berlakunya Lailatul Qadar sering kali berlaku perselisihan pendapat di kalangan para ulama. Tetapi pendapat yang kuat menyatakan adalah pada malam ganjil sesudah hari kedua puluh Ramadan iaitu malam 21, 23, 25, 27 dan 29 Ramadan.

Kini tinggal hanya 10 hari sebelum kita berpuasa dan akan menempa lalitul Qadar pada salah satu malam di bulan tersebut.

Justeru, di samping kita membuat persediaan menyambut hari raya, jangan pula melupakan kepentingan merebut peluang akhir yang disediakan Allah, iaitu menggandakan pahala amalan pada malam Lailatul Qadar.

Allah SWT sendiri selalunya menyembunyikan beberapa urusan agama yang lain atas hikmah tertentu seperti;

  • Allah SWT menyembunyikan Lailatul Qadar untuk menguji umatnya sejauh mana tahap amal ibadat mereka sepanjang Ramadan.
  • Allah SWT menyembunyikan saat penerimaan doa (ijabah segala doa) pada hari Jumaat supaya kita berdoa sepanjang hari itu.
  • Allah SWT menyembunyikan sembahyang Wusta dalam solat lima waktu supaya kita memelihara semua waktu solat fardu.
  • Allah SWT menyembunyikan isim adzam di antara nama-Nya supaya kita menyebut semua nama-Nya (Asmaul Husna)
  • Allah SWT menyembunyikan makna maksiat yang sangat terkutuk supaya kita menghentikan melakukan apa juga bentuk maksiat.
  • Allah SWT menyembunyikan siapa yang menjadi wali di antara mukmin supaya kita berbaik sangka terhadap semua orang mukmin.
  • Allah SWT menyembunyikan kedatangan hari kiamat supaya kita selalu bersiap sedia.
  • Allah SWT menyembunyikan ajal manusia supaya kita selalu dalam persiapan menemui-Nya.



Walau bagaimana pun berkaitan dengan Lailatul Qadar, ulama bersepakat mengatakan bahawa terdapat beberapa tanda apabila berlakunya malam itu antaranya ialah:

  • Orang berkesempatan melihat malam al Qadar dapat merasakan bahawa segala yang ada di bumi dan di langit bagaikan bersujud ke hadrat Allah.
  • Sesiapa yang berkesempatan menemui malam al Qadar akan melihat suasana alam yang terang benderang walau pun berada dalam kegelapan.
  • Sesiapa yang berkesempatan menemui malam al Qadar akan dapat mendengar salam malaikat dan tutur kata mereka.
  • Orang yang berkesempatan menemui malam al Qadar akan diperkenankan segala doanya.



Bagaimanapun pahala ibadat pada malam al Qadar akan tetap mendapat ganjaran dari Allah Taala biarpun tandanya tidak dapat dilihat dengan mata kasar.


WAKTU DAN TANDA-TANDA KEDATANGAN MALAM LAILATUL QADAR

Dari Ibnu Umar ra, ada beberapa orang sahabat Nabi Saw yang bermimpi bahwa Lailaitul Qadar akan datang pada pada tujuh malam terakhir bulan Ramadhan, Rasulullah SAW bersabda: "Aku juga melihat ru'yah kalian pada tujuh malam terakhir bulan tersebut. Maka barang siapa yang menginginkannya, dapatkanlah malam tersebut pada tujuh malam terakhir"

Lailatul Qadar mempunyai kedudukan yang istimewa dalam Islam, karena malam tersebut diakui sebagai malam yang lebih baik dari seribu bulan. Pada malam tersebut turunlah para malaikat (termasuk malaikat Jibril) dengan izin Tuhannya untuk mengatur segala urusan. Malam tersebut akan penuh dengan kesejahteraan sampai terbit fajar.

Seperti halnya kematian, malam Lailatul Qadar juga dirahasikan keberadaannya oleh Allah supaya manusia mempergunakan seluruh waktunya untuk beribadah dan mengingatnya dengan tetap mawas diri setiap saat, selalu berbuat kebaikan dan taat kepada Tuhannya.

"Aku juga melihat Lailatul Qadar dalam mimpi seperti kalian yaitu pada tujuh malam terakhir" (dengan mempergunakan kalimat Tawaata'a). Hadis ini bersinggungan dengan sebuah hadis yang berbunyi: "Seseorang telah melihat malam Lailatul Qadar pada tujuh malam terakhir bulan Ramadhan, maka Nabi bersabda: "Dapatkanlah malam mulia itu, pada tujuh malam terakhir" (Dengan mempergunakan kata Ra'a). Riwayat Muslim menyatakan bahwa Lailatul Qadar jatuh pada tujuh malam terakhir sedang riwayat Bukhari ada yang melihat jatuh pada malam ketujuh dan ada yang melihat sepuluh terakhir.

Karena perbedaan kalimat pada kedua hadis tersebut (dalam riwayat Muslim mempergunakan kalimat Tawata'a sedangkan riwayat Bukhori tidak mempergunakan kalimat tersebut), timbullah perbedaan pendapat di antara para ulama dalam menentukan datangnya malam Lailatul Qadar, ada yang mengatakan pada tujuh malam terakhir dan ada juga yang mengatakan sepuluh malam terakhir. Padahal secara tidak langsung bilangan tujuh masuk ke dalam sepuluh, maka Rasulullah pun menentukan bahwa malam Lailatul Qadar jatuh pada tujuh malam terakhir, karena makna Tawaata'a pada hadis yang diriwayatkan Muslim berarti Tawaafuq (sesuai atau sama).

Sebagian ulama berpendapat bahwa yang dimaksud dengan tujuh di sini adalah tujuh malam terakhir bulan Ramadhan. Berdasarkan hadis yang diriwayatkan Ali ra, bahwasanya Rasulullah SAW bersabda: "Dapatkanlah Lailatul Qadar pada sepuluh malam terakhir bulan Ramadhan, seandainya kalian kehilangan hari-hari sebelumnya maka jangan sampai kalian melewatkan malam-malam terakhir bulan tersebut"

Diriwayatkan oleh Ibnu Umar ra, ia berkata, bahwasanya Rasulullah Saw bersabda: "Dapatkanlah Lailatul Qadar pada sepuluh malam terakhir bulan Ramadhan, apabila kalian merasa lemah atau tidak mampu melaluinya maka jangan sampai kalian kehilangan tujuh malam berikutnya" Dari berbagai versi hadis yang ada, telah terbukti bahwa Lailatul Qadar jatuh pada sepuluh malam terakhir bulan Ramadhan.

Sebagian ulama berpendapat bahwa Lailatul Qadar jatuh pada malam dua puluh dua dan paling akhir jatuh pada malam dua puluh delapan, berdasarkan sebuah hadis yang diriwayatkan oleh Bukhori dari Ibnu Abbas bahwasanya Rasulullah SAW bersabda: "Dapatkanlah Lailatul Qadar pada sepuluh malam terakhir bulan Ramadhan. Akan tetapi malam Lailatul Qadar sendiri jatuh pada malam ke sembilan, tujuh dan lima Ramadhan (bilangan ganjil).

Dari riwayat hadis yang berbeda lahirlah pendapat para ulama yang beragam (tidak kurang dari empat puluh pendapat). Malam Lailatul Qadar mempunyai ciri dan keistimewaan tersendiri yang tidak dapat kita kenali kecuali setelah berlalunya malam tersebut. Salah satu ciri atau keistimewaan tersebut adalah; terbitnya matahari seperti biasa akan tetapi memancarkan cahaya redup (tidak bersinar terang seperti biasa), berdasarkan sebuah hadis: dari Zur Bin Hubaisy, ia berkata: "Aku mendengar Ubay Bin Ka'ab berkata: "Barang siapa yang bangun di tengah malam selama satu tahun ia akan mendapatkan Lailatul Qadar" Ayahku berkata: "Demi Allah tidak ada Tuhan selain dia, malam itu terdapat di bulan Ramadhan, demi Tuhan aku mengetahuinya, tapi malam manakah itu? Malam dimana Rasulullah memerintahkan kita untuk bangun untuk beribadah. Malam tersebut adalah malam ke dua puluh tujuh, yang ditandai dengan terbitnya matahari berwarna putih bersih tidak bercahaya seperti biasanya".

Diriwayatkan dari Ibnu Khuzaimah dari hadis Ibnu Abbas: "Ketika Lailatul Qadar pergi meninggalkan, bumi tidak terasa dingin, tidak juga panas, dan matahari terlihat berwarna merah pudar" dan dari Hadits Ahmad: "Pada hari itu tidak terasa panas ataupun dingin, dunia sunyi, dan rembulan bersinar" Dari hadis kedua kita dapat menyimpulkan bahwa ciri-ciri tersebut hanya ada pada waktu malam hari.

Malam Lailatul Qadar bukanlah malam yang penuh dengan bintang yang bersinar (sebagaimana diperkirakan orang) akan tetapi Lailatul Qadar adalah malam yang mempunyai tempat khusus di sisi Allah. Dimana setiap Muslim dianjurkan untuk mengisi malam tersebut dengan ibadah dan mendekatkan diri padanya.

Imam Thabari mengatakan: "Tersembunyinya malam Lailatul Qadar sebagai bukti kebohongan orang yang mengatakan bahwa pada malam itu akan datang ke dalam penglihatan kita sesuatu yang tidak akan pernah kita lihat pada malam-malam yang lain sepanjang Tahun, sehingga tidak semua orang yang beribadah sepanjang tahunnya mendapat Lailatul Qadar" Sedangkan Ibnu Munir mengatakan bahwa tidak sepantasnya kita menghukumi setiap orang dengan bohong, karena semua ciri-ciri tersebut bisa dialami oleh sebagian golongan umat, selayaknya karamah yang Allah berikan untuk sebagian hambanya, karena Nabi sendiri tidak pernah membatasi ciri-ciri yang ada, juga tidak pernah menafikan adanya karamah.

Ia meneruskan: Lailatul Qadar tidak selamanya harus diiringi keajaiban atau kejadian-kejadian aneh, karena Allah lebih mulia kedudukannya untuk membuktikan dan memberikan segala sesuatu sesuai dengan kehendaknya. Sehingga ada yang mendapatkan malam Lailatul Qadar hanya dengan beribadah tanpa melihat adanya keanehan, dan ada sebagian lain yang melihat keanehan tanpa di sertai ibadah, maka penyertaan ibadah tanpa disertai keanehan kedudukannya akan lebih utama di sisi Tuhan.

Ada sebagian pendapat yang mengatakan bahwa salah satu ciri datangnya malam Lailatul Qadar adalah melihat segala sesuatu yang ada di bumi ini tertunduk dan sujud ke hadirat-Nya. Sebagian lain mengatakan pada malam itu dunia terang benderang, dimana kita dapat melihat cahaya dimana-mana sampai ke tempat-tempat yang biasanya gelap. Ada juga yang mengatakan orang yang mendapatkan malam Lailatul Qadar dapat mendengar salam dan khutbahnya malaikat, bahkan ada yang mengatakan bahwa salah satu ciri tersebut adalah dikabulkannya do'a orang yang telah diberikannya taufik.


(Disunting dari al-Shiyâm fî 'l-Islam, karya Dr. Ahmad Umar Hasyim. Penyunting dan alih bahasa: Yessi Afdiani NA.)

2 comments:

faisol said...

kalau diijinkan, saya hendak bertanya tentang lailatul qadar...

1. apakah semua orang yang sedang beribadah ketika para Malaikat turun, PASTI MENDAPAT LAILATUL QADAR...?

Ataukah Lailatul Qadar berkunjung seperti tamu, jadi tidak semuanya dapat walaupun sdg beribadah...?

2. Malaikat turun di negara mana...? Misal di Indonesia malam hari & ternyata terjadi lailatul qadar, apakah umat Islam di belahan bumi lain misalnya di Eropa yang sedang ibadah puasa (karena siang hari) PASTI MENDAPAT KEUTAMAAN LAILATUL QADAR, karena sedang beribadah ketika malaikat turun...?

3. Bagaimana kalau para ulama sedunia membuat catatan kapan lailatul qadar terjadi di tahun-tahun sebelumnya... Misal pada tahun 1428H lailatul qadar terjadi pada malam 27, tahun 1427H pada malam 23 dan seterusnya...

terima kasih saya haturkan...

semoga Allah menyatukan & melembutkan hati semua umat Islam, amin...

salam,
achmad faisol
http://achmadfaisol.blogspot.com

Mohd Sukri said...

minta izin copy yer