Wednesday, December 23, 2009

Ilmu Yang menjadi Asasa

Selasa, 23Disember 2009/ 6 Zulkaedah 1431

Hadis Kedua Puluh Satu

21- عَنْ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ عَمْرِو رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمَا أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ الْعِلْمُ ثَلَاثَةٌ وَمَا سِوَى ذَلِكَ فَهُوَ فَضْلٌ آيَةٌ مُحْكَمَةٌ أَوْ سُنَّةٌ قَائِمَةٌ أَوْ فَرِيضَةٌ عَادِلَةٌ. (أبو داود وابن ماجه)


21 - Dari Abdullah bin 'Amr r.a., dari Nabi s.a.w., sabdanya: "Ilmu yang menjadi asas (bagi ilmu-ilmu yang dikehendaki oleh agama) adalah tiga dan yang lain dari itu adalah ilmu yang lebih; - ilmu-ilmu yang tiga itu ialah: Ayat Al-Qur'an yang terang nyata dan tidak dimansukhkan hukumnya; atau "Sunnah" (hadis) yang sah datangnya dari Rasulullah s.a.w., yang tetap kekal atau ketetapan dan keputusan yang betul sama seimbang (dengan kehendak kitab Allah dan sunnah RasulNya)"


( Abu Daud dan Ibnu Majah)


Hadis yang kedua puluh satu ini menerangkan:
1) Ilmu yang menjadi asas bagi ilmu-ilmu
agama.
2) Ilmu-ilmu yang
lebih (yang tidak dikehendaki oleh agama).


Huraiannya:


1) Ilmu-ilmu agama itu terbahagi dua:

Pertama - Ilmu-ilmu yang telah ditetapkan Tuhan menjadi Asas.


Kedua - Ilmu-ilmu yang dikehendaki oleh asas itu.


Bahagian yang pertama - Ilmu-ilmu yang ditetapkan menjadi asas itu ialah:


(1) Ayat-ayat Al-Qur'an yang terang nyata dan tidak dimansukhkan hukumnya, yang menjadi asas untuk dirujukkan kepadanya ayat-ayat Al-Qur'an yang "Mutasyabihat" (yang tidak jelas maksudnya).
(2) "Sunnah" atau "Hadis"
Rasulullah s.a.w. yang meliputi perkataannya, perbuatannya dan taqrirnya (ketiadaan larangannya), yang sah datangnya dari Baginda dan berkekalan diamalkan, kerana ialah yang menjadi keterangan dan ulasan bagi kitab Allah Al-Qur'an al-Karim.
(3)
Ketetapan dan keputusan yang betul sama seimbang dengan kehendak kitab Allah dan sunnah Rasul-Nya, yang ditetapkan atau diputuskan dengan jalan "ijma'" (kata sepakat alim ulama), atau dengan jalan "Qiyas" (bandingan sesuatu perkara yang belum ada hukumnya dengan perkara yang telah ada hukumnya).


Bahagian yang kedua - ilmu-limu yang dikehendaki oleh asas itu ialah:
Ilmu-ilmu yang ada hubungannya dengan kehendak-kehendak tata bahasa dan kesusasteraan Arab, juga yang ada hubungannya dengan pengertian maksud dan
pengambilan hukum-hukum syarak (Istinbat); ilmu perubatan untuk menjaga dan memelihara kesihatan dan seterusnya ilmu-ilmu kemasyarakatan, pembangunan, perniagaan, perindustrian, pertanian, perikanan, pelayaran, penerbangan dan sebagainya dari tiap-tiap ilmu pengetahuan yang dikehendaki adanya dan tak dapat ditinggalkan untuk menjalankan segala urusan pentadbiran dan pertahanan negara meliputi segala jenis ilmu pengetahuan sains dan teknologi yang diperlukan oleh keadaan dan masa, asalkan tidak bertentangan dengan asas yang tiga itu.


(2) Ilmu-ilmu yang lebih (yang tidak dikehendaki oleh agama).

Ilmu-ilmu yang lebih (yang tidak dikehendaki oleh agama) itu ialah:


Tiap-tiap ilmu pengetahuan yang tidak berdasarkan salah satu dari kitab Allah dan sunnah Rasul-Nya, lebih-lebih lagi yang bertentangan dengan kandungan keduanya atau dengan yang difahamkan dari keduanya, atau pun ilmu pengetahuan yang tak dapat memberi pertolongan untuk memahami kandungan keduanya.


Ilmu yang tersebut yang bukan sahaja tidak perlu dipelajari, bahkan boleh jadi ia dari ilmu-ilmu yang tidak memberi manfaat yang disuruh oleh Rasulullah s.a.w. supaya umatnya memohon dilindungi dan dijauhi oleh Allah Taala daripadanya, lebih-lebih lagi ilmu yang membahayakan diri sendiri atau orang lain, seperti ilmu sihir, ilmu nujum (Astrologi) dan sebagainya.

Sunday, December 20, 2009

Golongan Munafik

Ahad 20 Disember 2009/ Zulhijjah 1431


Golongan Munafik



Firman Allah swt:

“Sesungguhnya orang-orang munafik itu pada tingkatan yang paling bawah dari neraka. Dan kamu sekali-kali tidak akan mendapat seorang penolongpun bagi mereka. Kecuali orang-orang yang bertaubat dan mengadakan perbaikan dan berpegang teguh pada (agama) Allah dan tulus ikhlas (mengerjakan) agama mereka karena Allah. Maka mereka itu adalah bersama-sama orang yang beriman dan kelak Allah akan memberikan kepada orang-orang yang beriman pahala yang besar.”

- (QS. An-Nisa’ [4]: 145-146).

Munafik bererti seorang yang zahirnya islaman dan, tetapi menyembunyikan kekufuran dan kejahatan, yang demikian itu karena dia berada di dalam syariat Islam dari satu sisi, dan keluar dari Islam dari sisi yang lain.
Kita perlu berhati-hati supaya tidak terjebak dengan amalan kaum munafik dan hendaklah kita waspada dari tipu daya orang munafik, karena mereka hidup bersama kaum muslimin akan tetapi mereka benci dan memusuhi Islam dan umat Islam.

Ciri-ciri jahat orang-orang munafik dalam al-Qur’an dan as-Sunnah:


1. Mereka menghalangi tegaknya Islam, membendung tauhid, sunnah dan akidah yang benar. Dalilnya adalah firman Allah Subhanahu Wa Ta’ala: “Dan apabila dikatakan kepada mereka, ‘Marilah (patuh) kepada apa yang telah diturunkan Allah dan (patuh) kepada Rasul’, (niscaya) engkau (Muhammad) melihat orang munafik menghalangi dengan keras darimu.”

- (QS. An-Nisa’ [4]: 61).

2. Menghina orang Islam yang mengamalkan Sunnah. Dalilnya terdapat dalam al-Qur’an Surat at-Taubah ayat 79.

3. Orang munafik membenci sahabat Radhiallahu ‘anhum. Berdasarkan hadits Rasulullah Shallahu ‘alaihi wa Sallam, dari Anas Radhiallahu ‘anhu, Rasulullah bersabda:

“Tanda orang munafik adalah membenci sahabat Anshar dan tanda orang muslim adalah mencintai sahabat Anshar.”

- (Hadits ini diriwayatkan oleh Imam Muslim 1/60).

4. Orang munafik malas soalat berjama’ah di Masjid. Abdullah bin Mas’ud berkata:

“Dan sungguh aku menyaksikan kita semua, dan tidaklah yang enggan menjalankan shalat berjama’ah melainkan dia benar-benar orang munafik.”

- (HR Muslim 2/124).

5. Bila bicara berdusta, bila berjanji menyelisihi, bila diberi amanat dia berkhianat dan bila berdebat dia curang. Dari Abdullah bin Umar, Nabi Shallahu ‘alaihi wa Sallam bersabda:

Ada empat perkara, barang siapa yang pada dirinya ada empat perkara ini, maka dia adalah munafik murni sampai dia meninggalkannya: apabila dia berbicara berdusta, apabila berjanji menyelisihi, apabila dipercaya khianat, dan apabila berdebat maka dia curang.”

- (HR Bukhari 9/128).

Jenis Munafik.

Berkata Syaikh Shalih bin Fauzan: “Nifaq ada dua macam;

- pertama an-nifaq i’tiqadi (kemunafikan yang berhubungan dengan keyakinan), ini adalah kemunafikan yang besar, karena pelakunya menampakkan Islam, sedangkan hatinya benci dan mengingkarinya. Orang ini telah keluar dari Islam secara keseluruhan. Tempat tinggalnya di neraka yang paling bawah....

- Kedua an-nifaqul amali (kemunafikan yang berhubungan dengan amal), yaitu mengamalkan sebagian dari sifat munafik, akan tetapi hatinya tetap beriman, mereka ini tidak dinamakan keluar dari Islam, akan tetapi amalan mereka ini merupakan jalan menuju kekufuran. Orang ini ada unsur keimanan dan kemunafikan. Ketika sifat nifaqnya lebih besar maka mereka menjadi munafik murni.”(Aqidatut Tauhid 1/88).

Waspada Dan Hati-Hatilah Terhadap Sifat Munafik Dan Orang-Orang Munafik

Kenapa demikian? Karena mereka menipu dengan mengaku sebagai orang Islam. Mereka menyeru dan menggerakkan perbuatan syirik seperti: meminta kepada ahli kubur dan jin. Mereka memerintah kepada kemungkaran dan mencegah perbuatan yang ma’ruf. Mereka membendung dakwah kepada tauhid dan membendung amalan sunnah. Mereka menghina wanita yang memakai hijab (kerudung/jilbab) yang sesuai syariat, mencaci laki-laki yang memakai celana di atas mata kaki dan laki-laki yang berjanggut. Alangkah jeleknya apa yang dilakukan orang munafik...!!! Bersabarlah wahai laki-laki dan wanita beriman, berpegang teguhlah dengan Islam, satu-satunya agama yang diterima di sisi Allah Subhanahu wa Ta’ala...!!!

Mereka juga mencaci orang yang punya banyak anak, padahal Rasulullah bangga dengan banyaknya umatnya. Rasulullah Shallahu ‘alaihi wa Sallam bersabda: “Nikahilah wanita-wanita penyayang lagi subur (banyak keturunannya), sesungguhnya aku bangga dengan banyaknya kalian.”

- (HR Ahmad dan Ibnu Hibban, beliau menshahihkannya, dan dishahihkan oleh Syaikh Muhammad Nashiruddin al-Albani Rahimahullah dalam Silsilah Shahihah: 5/382). Mereka mencaci sahabat Rasulullah dan ulama hadits. Mereka menafsirkan ayat al-Qur’an dan hadits sesuai dengan hawa nafsu mereka. Lihatlah JIL (Jaringan Iblis) dan yang berpemahaman liberal, mereka menafsirkan ayat dengan perasaan dan impian syaitan. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:

“Orang-orang munafik laki-laki dan perempuan, sebagian dengan sebagian yang lain adalah sama, mereka menyuruh membuat yang mungkar dan melarang berbuat yang ma’ruf.”

- (QS. At-Taubah [9]: 67).

Siksaan yang menimpa orang munafik lebih parah daripada orang kafir, silahkan lihat al-Qur’an Surat an-Nisa’ ayat 145. Wallahu a’lam.


Saturday, December 19, 2009

Sabtu 19 Disember 2009/2 Muharram 1431

Friday, December 18, 2009

Kewajipan Mempelajari Ilmu Agama

Jumaat, 18 Disember, 2009/1 Muharram 1431

Kewajipan mempelajari Agama Islam.

Hari ini ialah Awal Muharram 1431.
Hari Awal Muharram atau Hari Maal Hijrah merupakan suatu hari bersejarah bagi orang Islam, kerana peristiwa hijrah nabi Muhammad swa dan pengikutnya ke Medinah menjadi permulkaan Islam mula berkembang dam tersebar meluas dari segi pengajarannya dan juga penambahan penganutnya di merata dunia. Ia memperingati penghijrahan Nabi Muhammad dari Kota Makkah ke Madinah pada tahun 622 Masihi. Berlaku pada 1 Muharam, ia merupakan hari pertama Takwim Hijrah.

Bersempena dengan Hari Ulang Tahun Hijra klai ke 1431, marilah kita berazam meningkatkan ilmu atau pengetahuan mengenai agama Islam khusunya Ilmu Fardhi Ain, agar dapat kita mengamal dan meningkatlah ibadat kita kepada Allah swt, dengan mengamalkan cara-cara yang tepat bagi melakasanakan apa-juga ynag berkaitan dengaa aqidah, syariat dan muamalat yang kita lakukan sehari-hari, supaya amalan kita diterima dan mendapat keredhaan Allah swt.

Maksud hadis Nabi saw,

20 - Dari Anas bin Malik r.a., katanya: Rasulullah s.a.w. bersabda: "Menuntut ilmu adalah satu fardu yang wajib atas tiap-tiap seorang Islam."

(Ibnu Majah dan Lain-lainnya).

Hadis yang kedua puluh ini mewajibkan tiap-tiap orang Islam - lelaki dan perempuan - mempelajari ilmu agama.

Huraiannya:

1. Oleh kerana sesuatu pekerjaan dari yang sekecil-kecilnya hingga yang sebesar-besarnya tidak dapat dilakukan dengan teratur dan sempurna melainkan dengan ilmu pengetahuan yang berkenaan dengannya, maka nyatalah wajibnya seseorang mempelajari hukum dan peraturan Islam bagi apa sahaja perkara yang hendak dilakukannya sebagai wajib fardu ain.

2. Menurut kitab Al-Furuq dan "Tahzib al-Furuq" bahawa Imam Ghazali dalam kitabnya "Ihya-'Ulumuddin" dan Imam Asy-Syafi'i dalam kitabnya "Ar-Risalah" menerangkan; Bahawa telah sekata alim ulama, tidak harus seseorang cuba melakukan sesuatu perkara sehingga ia mengetahui lebih dahulu hukum-hukum Allah mengenai perkara yang hendak dilakukannya itu; - orang yang hendak berjual beli wajib mempelajari hukum Allah mengenainya dan orang yang hendak menyewa, memberi sewa, mengupah dan mengambil upah wajib mempelajari hukum Allah mengenainya. Demikian juga orang yang hendak sembahyang wajib mempelajari hukum Allah mengenal sembahyang. Demikian seterusnya segala perkataan yang hendak dikatakan dan segala amal yang hendak dikerjakan.

3. Maka sesiapa yang mengetahui hukum Allah dan beramal menurut apa yang diketahuinya, sudah tentu ia telah mentaati Allah dengan dua taat dan sesiapa yang tidak mengetahui dan tidak pula beramal, sudah tentu ta telah menderhaka kepada Allah dengan dua kederhakaan; dan sesiapa yang mengetahui hukum Allah dan tidak beramal mengikutNya, maka ia telah mentaati Allah dengan satu taat dan menderhaka kepadaNya dengan satu kederhakaan.


4. Sayugia diingat, bahawa ilmu agama itu bukan satu perkara yang mudah didapati bahkan mestilah dipelajari dan diterima dari orang Islam yang betul-betul dan sah ilmunya serta jujur dan adil dalam penyampaiannya, sebagaimana yang diterangkan dalam hadis Rasulullah s.a.w. yang maksudnya: "Sesungguhnya ilmu yang sah dan muktabar itu tidak akan dapat dicapai melainkan dengan dipelajari dari guru"; bukan semata-mata dari buku-buku, lebih-lebih lagi yang dikarang oleh orang-orang orientalis, yang kebanyakannya menghidangkan madu bercampur racun.

Petikan Berita (bernama, Berita Harian).

Yusuf Abdullah al-Qadarawi, Tan Sri Yusoff Nor dipilih Tokoh Maal Hijrah 2009

PUTRAJAYA: Pengerusi Kesatuan Ulama Islam Sedunia, Yusuf Abdullah al-Qadarawi dan Pengerusi Kumpulan Felda, Tan Sri Dr Yusoff Nor hari ini diumumkan sebagai Tokoh Maal Hijrah 2009/1431H.

Ia diumumkan pada majlis sambutan Maal Hijrah peringkat kebangsaan yang berlangsung di Pusat Konvensyen Antarabangsa (PICC), di sini pagi ini.

Anugerah disampaikan Timbalan Yang di-Pertuan Agong,Tuanku Abdul Halim Mu'adzam Shah.

Kedua-dua tokoh menerima hadiah wang tunai RM100,000, sebuah plak, pingat dan sijil penghargaan.

Tokoh Maal Hijrah Sumbang Penghijrahan Masyarakat Berilmu

PUTRAJAYA, 18 Dis (Bernama) -- Pengerusi Kesatuan Ulama Islam Sedunia Dr Yusuf Abdullah Al-Qaradawi, dari Mesir terpilih sebagai Tokoh Maal Hijrah 1431H peringkat kebangsaan kerana jasanya sebagai pemikir, sarjana dan intelek kontemporari yang amat disegani di seluruh dunia.

Dr Al-Qaradawi, 83, yang juga Pengarah Pusat Kajian Sunnah dan Sejarah Islam di Universiti Qatar amat peka dengan permasalahan ummah terutamanya keperluan umat Islam di negara lain sehingga beliau turut diberi kepercayaan memegang jawatan Pengerusi Majlis Fatwa Eropah dan Ahli Pusat Pengajian Islam di Oxford.

Beliau berkelulusan Usuluddin dari Universiti Al-Azhar turut memiliki Ijazah Falsafah Kedoktoran (PhD) dalam bidang fiqh al-Zakat serta mendapat pujian dan menjadi kebanggaan majoriti sarjana Islam termasuk al-Mawdudi dan Muhammad Mubarak.

Seorang lagi tokoh yang terpilih dianugerahi Tokoh Maal Hijrah 1431H peringkat kebangsaan ialah Pengerusi Kumpulan Felda Tan Sri Dr Mohamed Yusof Mohamed Noor.

Dr Mohamed Yusof, 68, terpilih kerana jasanya meningkatkan kedudukan masyarakat Islam terutamanya melalui bidang pendidikan dan politik.

Anak kelahiran Besut, Terengganu itu berkelulusan Usuluddin dari Universiti Al-Azhar juga pemegang PhD dalam bidang Falsafah di Universiti Kaherah, Mesir.

Kini, selain Pengerusi Kumpulan Felda, Dr Mohamed Yusof turut memberi sumbangan sebagai Pengerusi Lembaga Pengarah Universiti Sains Islam Malaysia (Usim), Pengerusi Majlis Penasihat Tabung Haji dan Pengerusi Lembaga Pendidikan Islam Malaysia.

Dahulu, beliau pernah menyandang jawatan Timbalan Menteri dan Menteri di Jabatan Perdana Menteri dan juga pernah bertugas sebagai pensyarah dan Dekan di Fakulti Pengajian Islam Universiti Kebangsaan Malaysia (UKM).

Kedua-dua tokoh itu menerima hadiah wang tunai RM100,000 termasuk wang tunai RM10,000 sumbangan Yayasan Ubaidi, sebuah plak, pingat dan sijil penghargaan yang disampaikan Timbalan Yang di-Pertuan Agong Tuanku Abdul Halim Mu'adzam Shah pada sambutan Maal Hijrah peringkat kebangsaan di Pusat Konvensyen Antarabangsa Putrajaya di sini hari ini.

Di KEDAH, cendekiawan sejarah, Datuk Wan Shamsuddin Mohd Yusof, 77, menerima anugerah tokoh Maal Hijrah peringkat negeri yang berlangsung di Dewan Seri Negeri, Wisma Darulaman.

Selaku Pengerusi Persatuan Sejarah Malaysia Cawangan Kedah (PSMCK) beliau banyak menyumbang dalam bidang pendidikan serta karya-karya sejarahnya banyak digunakan sebagai rujukan.

Bekas pendidik dari Taiping, Perak dan dibesarkan di Sik, Kedah ini mempunyai lima orang anak, berjaya menghasilkan buku Sejarah Tanah Melayu yang diterbitkan pada tahun 1966 dan 1968, buku itu juga dipilih sebagai buku teks sekolah di negara Brunei Darussalam.

Antara karya yang telah dihasilkan termasuklah Pemuliharaan dan pendokumentasian dokumen dan manuskrip seperti Hukum Kanun Dato' Kota Setar, Geran-geran Tanah Kerajaan Kubang Pasu Darul Qiyam, Panji-panji Perang Kepunyaan Dato' Pekerma Ali, Dua Pucuk Surat Sultan Mohamad Jiwa II 1773 dan Surat-menyurat Sultan Abdul Hamid Halim Shah.

Wan Shamsuddin menerima hadiah wang tunai RM10,000, hadiah iringan dan juga sijil penghargaan yang disampaikan oleh Tengku Bendahara Kedah, Datuk Seri Tengku Anuar Sultan Badlisyah.

Di MELAKA, Naib Cancelor, Kolej Universiti Islam Melaka (KUIM), Prof Emiritus Datuk Wira Dr Mohd Yusoff Hashim, 64, dianugerah Tokoh Maal Hijrah peringat negeri di Masjid ar-Rashidin.

Yang Dipertua Negeri Melaka Tun Mohd Khalil Yaakob menyampaikan anugerah itu pada majlis sambutan peringkat negeri.

Di JOHOR, tokoh Maal Hijrah negeri itu diberi kepada Penasihat Majlis Agama Islam Johor Datuk Nooh Gadot. Pasangan Saim Suradi dan Saniah @ Amnah Ahmad dari Batu Pahat menerima anugerah khas Ibu Bapa Mithali manakala pasangan Othman Abd Rahman dan Norani A Rahman dari Muar menerima anugerah Ibu Bapa Mithali.

Bagaimanapun, di KUALA TERENGGANU, tiada pemenang tokoh maal hijrah kerana tiada yang betul-betul layak untuk dianugerahkan tetapi imam yang mempunyai 16 orang anak telah dipilih sebagai tokoh keluarga mithali yang diadakan di Taman Tamadun Islam di sini.

Haji Abdul Razak Jusoh, 70, Imam Masjid Kampung Bukit Kandis dekat Kuala Terengganu pernah menjadi nelayan dipilih berdasarkan kecemerlangannya mendidik anak-anak dengan 11 daripada 16 anaknya itu berjaya melanjutkan pelajaran ke universiti.

Di SARAWAK, kasih sayang, asuhan dan didikan sempurna yang dicurahkan petani, Chek Bujang, 58, dan isterinya Jariah Tahir, 58, akhirnya membuahkan hasil apabila kesemua lapan cahaya mata mereka berjaya menjejak kaki ke menara gading membolehkan pasangan itu menerima anugerah Maal Hijrah Kategori Keluarga Cemerlang daripada Yang Dipertua Negeri Sarawak Tun Abang Muhammad Salahuddin.

Kegigihan pasangan dari Kampung Tanjong Apong, Daerah Asajaya, membesarkan enam anak perempuan dan dua anak lelaki berusia 36 hingga 21 tahun, sehingga tiga daripada mereka merupakan pemegang ijazah sarjana dalam bidang pendidikan, empat lagi pemegang ijazah sarjana muda (pelbagai bidang) dan seorang lagi pemegang Diploma (bidang pendidikan) menerima anugerah di Dewan Suarah di Kuching.

Chek yang kini merupakan seorang guru kelas Al-Quran dan Fardu Ain menerima wang tunai RM3,000, plak, sijil dan cenderamata.

Di SELANGOR, bekas Senator dan ahli politik, Hassan Shukri, 70, dipilih penerima anugerah Tokoh Maal Hijrah peringkat negeri disampaikan oleh Sultan Selangor, Sultan Sharafuddin Idris Shah.

-- BERNAMA

Wednesday, December 16, 2009

Khusyu' dalam solat

Rabu, 16 Disember,2009/ 29 Zulkaedah 1430

Solatyang diterima ialah solat yang dilakukan dengan khusu' dan sebagamana sabda Nabi saw, " Solatlah kamu sebagaimanakamu melihatku shalat, jika tidak maka solatmu tertolak". Oleh itu kekhusy'an dalam solat adalah solat yang di lakukan mengikut tata cara sholat yang sesuai oleh Nabi.


Dengan mengamalkan solat sebagaimana yang ditunjukkan oleh Nabi, niscaya Allah akan memenuhi hati kita dengan rasa khusyu’ semasa mendirikan solat.

Kekhusyu'an dalam shalat bukanlah sekadar kemampuan memaksimakan konsentrasi sehingga pikirannya hanya terfokus dalam shalat.
Namun kekusyu'an lebih merupakan kondisi hati yang penuh rasa takut, pasrah, tunduk dan sejenisnya..dan ini merupakan karunia Allah swt diturunkan ke khusyu’ tersebut.


Mengenai makna kekhusyu'an itu,

Ibnu Abba's menandaskan: "Artinya penuh takut dan khidmad."

Al-Mujahid menyatakan: "Tenang dan tunduk."

Sementara Ali bin Abi Thalib pernah menyatakan:
"Yang dimaksud dengan kekhusyu'an di situ adalah kekhusu'an hati."

Lain lagi dengan Hasan al-Bashri, beliau berkata:

"Kekhusyu'an mereka itu berawal dari dalam sanubari, lalu terkilas
balik ke pandangan mata mereka sehingga mereka menundukkan
pandangan mereka dalam shalat."


Menurut Istilah


Khusyu' artinya: kelembutan hati, ketenangan sanubari yang berfungsi
menghindari keinginan keji yang berpangkal dari memperturutkan hawa
nafsu hewani, serta kepasrahan di hadapan ilahi yang dapat melenyapkan
keangkuhan, kesombongan dan sikap tinggi hati.

Dengan itu, seorang hamba akan menghadap Allah dengan sepenuh hati.
Ia hanya bergerak sesuai petunjuk-Nya, dan hanya diam juga sesuai dengan
kehendak-Nya.

Qatadah ra berkata, " Untuk khusu' dalam solat hati itu mestilah penuh denganngentar pada Allah swt dan mata hendakla memandang ke tanah"

Umar bin Yassir.ra. meriwayatkan bahawa beliau mendengar Rasululah saw bersabda,

" Apabila seseorang selesai solat dia mendapat sepersepuluh, sepersembilan, seperlapan, separtujuh, seperenam seperlima, seperempat, sepertiga atau seperdua daripada pahala maksima (mengikut mutu solat yang dikerjakan) olehnya."

Ini bermakna bahawa pahala akan diberi seimbang dengan keikhlasan dan kekhyu'an solat dikerjakan.Benarlah juga dikatakan bahawa ada setengahnya menerima pahala sepenuhnya dan ada yang tidak mendapat pahala sedikit pun.

Para sahabat dan para tabi'in berkata , bahawa khusyu' itu ialah brrtenang dalam solat. raslullah saw diberitakan oleh perawi sebagai bersabda,

" Solatlah denga khusyu' solah-olah ia adalah solatmu yang terakhir sebelum kamu mati".


Imam Atha' pernah berkata:

"Khusyu' artinya, tak sedikitpun kita mempermainkan salah satu

anggota tubuh kita."


Kiat Khusyu' Dalam Soalat

dalam buku-buku mereka khususnya yang berkenaan dengan hukum dan

tata cara shalat. Di antaranya:


1. Mengenal Allah, Menghadirkan, Mengagungkan dan takut Kepada-Nya.

Orang yang paling khusyu' dalam shalat adalah orang yang paling bertakwa. Karena Allah berfirman:

"(orang-orang yang khusyu' yaitu) orang-orang yang meyakini bahwa mereka akan menemui Rabb mereka, dan bahwa mereka akan kembali kepada-Nya."

- (Al-Baqarah: 46)

2. Hendaknya Orang Yang Soalat Menyadari Bahwa Solat Adalah Perjumpaan, Sekaligus Komunikasi Dirinya Dengan Allah

Hal itu telah diisyaratkan dalam hadits Nabi :

"Apabila seorang di antaramu sedang shalat, sesungguhnya dirinya sedang berkomunikasi kepada Allah. Maka janganlah ia membuang ludah ke hadapan muka, atau ke arah kanan; tapi hendaknya ia membuangnya ke-sebelah kiri, atau di bawah telapak kakinya."

- (Diriwayatkan oleh Al-Bukhari, Muslim)

3. Ikhlas Dalam Melaksanakannya

Keikhlasan adalah ruh aural. Satu amalan yang dianggap pelakunya sudah ikhlas, bila tak mencocoki ajaran syari'at, tak akan diterima. Demikian juga amalan yang benar sesuai ketentuan, namun tidak ikhlas karena Allah, juga tak ada gunanya. Ikhlas, artinya hanya untuk Allah. Benar, artinya menuruti, Sunnah Rasul .

Satu amalan yang dilakukan dengan ikhlas, dengan sendirinya akan mudah meleburkan diri si hamba secara menyeluruh ke dalam ibadah itu sendiri. Karenatak satupun menurut keyakinannya yang pantas menguras perhatian dirinya selain Allah.

4. Mengkonsentrasikan Diri Hanya Untuk Allah

Dalam shahih Muslim diriwayatkan bahwa Rasulullah bersabda:

"Seandainya seorang hamba (sesudah berwudhu dengan baik) tegak malakukan shalat, memuji Allah, menyanjung-Nya, mensucikan diri-Nya yang mana itu memang merupakan hak-Nya, mengkonsen-trasikan diri hanya mengingat Allah; maka ia akan keluar darishalatnya laksana bayi yang baru dilahirkan."

5. Menghindari Berpalingnya Hati Dan Anggota Tubuh Dari Shalat

Imam Ash-Shan'ani menyatakan:

"Sebab dimakruhkannya berpaling tanpa hajat di kala soalat, karena itu dapat mengurangi kekhusyu'an, dan dapat juga menyebabkan sebagian anggota badan berpaling dari kiblat. Juga karena soalat itu adalah menghadap Allah.

6. Merenungi Setiap Gerakan Dan Dzikir-Dzikir Dalam Shalat

Imam Ibnul Qayyim pernah menyatakan:

"Ada satu hal yang ajaib, yang dapat diperoleh oleh orang yang merenungi makna-makna Al-Qur'an. Yaitu keajaiban-keajaiban Asma dan Sifat Allah. Itu terjadi, tatkala orang tadi menuangkan segala curahan iman dalam hatinya, sehingga ia dapat memahami bahwa setiap Asma dan Sifat Allah itu memiliki tempat (bukan dibaca) di setiap gerakan soalat.

Artinya bersesuaian. Tatkala ia tegak berdiri, ia dapat menyadari ke-Maha Terjagaan Allah, dan apabila ia bertakbir, ia ingat akan ke-Maha Agung-an Allah."

7. Memelihara Tuma'ninah (Ketenangan), Dan TidakTerburu-buru Dalam Shalat

Allah berfirman:

"Dan apabila kamu sudah tenang, maka dirikanlah shalat..." (An-Nisa': 103)

Ayat di atas jelas mengisyaratkan bahwa ketenangan, adalah faktor vital dalam solat yang harus diperhatikan.

8. Semangat Dalam Melakukannya

Ini satu hal yang lumrah. Karena tatkala seseorang soalat dengan seenaknya, malas dan tidak bersemangat; jelas tak akan dapat diharapkan kehusyu'annya.

Rasulullah juga pernah bersabda,

"Apabila salah seorang di antara kamu mengantuk, sedangkan ia tengah melalukan soalat; hendaknya ia tidur terlebih dahulu sehingga hilang rasa mengantuknya. Karena kalau ia solat terus, jangan jangan, ia ingin beristighfar malah mencaci dirinya sendiri"

9. Memilih Tempat Soalat Yang Sesuai

Artinya yang memenuhi syarat agar bisa membuat soalat kita menjadi khusyu'.

Tempat tadi paling tidak harus memenuhi beberapa kriteria berikut:

1. Tenang, dan jauh dari keributan yang ditimbulkan mungkin oleh penuh sesaknya orang-orang yang shalat, sehingga membikin suara yang mangganggu. Sesungguhnya Nabi pernah marah ketika dalam shalat beliau mendengar suara ribut di belakangnnya.

2. Hadirnya para malaikat. Artinya, kita menghindari hal-hal/sesuatu yang menghalangi malaikat (rahmat) untuk memasuki tempat kita menunaikan soalat. misalnya, lukisan benda bernyawa, atau anjing. Karena Nabi bersabda: "Para malaikat tidak akan memasuki satu rumah yang di dalamnya ada lukisan benda bernyawa, atau anjing."

10. Menghindari Segala Yang Menyibukkan Dan Mengganggu Solat


Siapa yang soolatnya khusyu' sepanjang waktu di antara kita?

Rasanya sulit menemukan orang tersebut. Ibadah sholat yang seharusnya menimbulkan kenikmatan, dialog dengan Rabb kita itu, acapkali menjadi hambar dan tidak berasa karena kadar kekhusyu'an kita kurang.

Ada saja yang mengganggu pikiran kita saat kita sudah mulai melaksanakan solat, bahkan tak jarang apa yang sebelumnya kita cari setengah mati tidak ketemu, ketika kita sudah bertakbir, maka seolah hadir dalam ingatan kita dimana barang yang kita cari tersebut.

Khusyu' itu bermakna adanya ketenangan, tuma'ninah , pelan-pelan, ketetapan hati, tawadhu' serta merasa takut dan selalu merasa diawasi Allah Ta'ala (Tafsir Ibnu Katsir, cet. Darus Syi'b VI/414).

alat oleh al akh Bambang Setiawan)

Definisi lainnya dari khusyu' ini adalah menghadapnya hati di hadapan Allah Ta'ala dengan sikap tunduk dan rendah diri (merasa hina). (Madarijus Salikin I/520).

Menjalankan sholat yang wajib (lima waktu) itu setiap harinya, tidaklah bisa kita lakukan dengan ringan, apabila kita tidak bisa khusyu' dalam sholat kita, sebagaimana firmanNya;

"Jadikanlah sabar dan shalat sebagai penolongmu. Dan sesungguhnya yang demikian itu sungguh berat, kecuali bagi orang-orang yang khusyu' (Al-Baqarah :45)

Dalam postingan ini saya hanya mencantumkan dua poin berdasarkan sebuah buku yang berjudul 33 Kiat Mencapai Kekhusyu'an dalam Shalat, dimana ringkasannya telah dibuat oleh al akh Bambang Setiawan yang terlampir dalam postingan ini.

Menggapai kekhusyu'an sholat.

Pertama :

Memperhatikan hal-hal yang mendatangkan kekhusyu'an, diantaranya adalah:

  1. Bersiap diri sepenuhnya untuk shalat

  2. Tuma'ninah

  3. Mengingat mati di saat shalatmu

  4. Menghayati makna bacaan shalat

  5. Membaca al-Qur'an sambil berhenti pada setiap ayat

  6. Membaca al-Qur'an dengan tartil serta membaguskan bacaan

  7. Meyakini bahwa alloh akan mengabulkan permintaannya saat hamba sedang shalat

  8. Meletakkan sutrah ( tabir pembatas ) mendekatkan diri ke arahnya

  9. Meletakkan tangan kanan di atas tangan kiri di atas dada

  10. Melihat ke arah tempat sujud

  11. Menggerak-gerakan jari telunjuk

  12. Membaca surat-surat al-Qur'an atau do'a-do'a secara berganti-ganti

  13. Membaca ayat-ayat Sajdah

  14. Memohon perlindungan kepada Allah dari godaan syetan

  15. Membayangkan kekhusyu'an salafush shalih saat mereka shalat

  16. Mengetahui keistimewaan-keistimewaan khusyu' dalam shalat

  17. Bersungguh-sungguh dalam berdo'a (Pada saat disyari'atkannya berdo'a) pada

  18. Waktu shalat, khususnya pada waktu sujud

  19. Berdzikir setelah shalat

Kedua :

Berupaya Menepis Penghalang kekhusyu'an shalat , diantaranya adalah:

  1. Menghilangkan sesuatu yang mengganggu di tempat shalat

  2. Menghindari shalat dengan pakaian bergambar/bertulisan dan sejenisnya

  3. Menghindari shalat dekat makanan yang disukai

  4. Menghindari shalat dalam keadaan menahan buang air kecil maupun besar

  5. Menghindari shalat dalam kondisi mengantuk

  6. Jangan shalat di belakang orang yang sedang bercakap-cakap ataupun tidur

  7. Tidak menyibukkan diri dengan membersihkan debu

  8. Tidak boleh mengganggu orang shalat dengan mengeraskan bacaan al-Qur'an

  9. Tidak menoleh ke kiri atau ke kanan ketika sedang shalat

  10. Tidak mengarahkan pandangan ke langit

  11. Jangan meludah ke depan ketika sedang shalat

  12. Berusaha sebisa mungkin untuk tidak menguap karena kantuk

  13. Tidak bertolak pinggang ketika shalat

  14. Tidak menjulurkan pakaian hingga menyentuh tanah

  15. Tidak mencontoh gerakan atau tingkah laku binatang

Demikianlah kiat-kiat menghadirkan hati dalam sholat ini, sehingga ketika kita menghadapkan diri-diri kita dalam ibadat yang selalu 5 (lima) waktu itu, akan berbekas kedalam diri kita.

Wallahu a'lam

(
silahkan didownload ringkasan kitab 33 Kiat Mencapai Kekhusyu'an dalam Sh

Khusyu’ tentu merupakan sesuatu yang dicari-cari oleh orang yang mendirikan salat yang ingin mendapatkan keridhaan dari Allah swt yand disembahnya.

Khusyu’ adalah ketentraman, ketenangan, perasaan takut, kesejahteraan, dan juga tawadhu’. Lebih singkatnya, khusyu’ adalah merasa takut terhadap Allah dan selalu memperhatikan segala apa yang diperintahkan-Nya. Ada juga yang mengatakan, khusyu’ adalah berdirinya hati di hadapan Rabb dengan penuh ketundukan dan perasaan hina dina.

Tempat khusyu’ adalah di dalam hati. Namun, khusyu’ juga memberikan dampak terhadap jasmani. Sebab, anggota tubuh akan mengikuti hati. Jika hati khusyu’ anggota badan pun akan tenang dan tentram. Jika khusyu’ rusak, rusak pulalah ibadah yang dilakukan oleh anggota badan seseorang.

Kebanyakan ulamak berpendapat bahwa khusyu’ adalah sesuatu yang diwajibkan. Allah berfirman, yang artinya,

Jadikanlah sabar dan salat sebagai penolongmu. Dan sesungguhnya yang demikian itu sungguh berat, kecuali bagi orang-orang yang khusyu’”.

- (Al-Baqarah:45)

Ibnu Taimiyah mengatakan bahwa ayat di atas menunjukkan ancaman terhadap orang-orang yang tidak khusyu’. Dan ancaman itu, tidak akan terjadi kecuali terhadap orang-orang yang meninggalkan sebuah kewajiban, atau mengerjakan sesuatu yang haram. Dengan demikian, jika orang-orang yang tidak khusyu’ itu diancam, artinya khusyu’ adalah wajib hukumnya.

Oleh karena itu, mengusahakan sebab-sebab khusyu’ merupakan sebuah keharusan. Secara garis besar, sebab-sebab yang menjadikan seseorang khusyu’ terbagi dalam dua hal, yaitu,

Pertama, mendatangkan segala sesuatu yang dapat mewujudkan kekhusyukan di dalam salat kemudian memperkuatnya,

kedua, membendung segala sesuatu yang dapat menghapus dan menghilangkan kekhusyukan tersebut.


Berikut ini, sebab-sebab khusyu’ kategori pertama yang terpenting:

Mempersiapkan Diri untuk Salat

Persiapan untuk salat ini dilakukan sejak muadzin mengumandangkan adzan, yaitu dengan menjawab kalimat-kalimat adzan. Setelah itu berdoa dengan doa setelah adzan yang diriwayatkan dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Adalah baik untuk berwudhu dari rumah daripada berwudhu di masjid. Maka, wudhulah dengan tata cara yang disyariatkan oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dan bacalah doa setelah wudhu. Termasuk dalam membersihkan diri adalah bersiwak serta mengharumkan mulut di mana nanti lisan merupakan jalan dilantunkannya Al-Quran.

Mengenakan pakaian yang baik merupakan hal yang diperintahkan oleh Allah dalam firmannya surah Al-A’raf ayat 31. Juga, jangan pula memancing ketidakhusyukan jamaah lain dengan mengenakan pakaian yang bergambar pada bagian belakangnya.

Setelah itu, berjalanlah menuju masjid dengan penuh ketenangan, ketundukan, penuh khidmat seraya berdzikir dengan dzikir saat berjalan ke masjid yang diriwayatkan dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Ketika masih ada waktu, hendaklah shalat 2 rakaat dulu sebelum duduk di masjid. Kalaupun ada waktu lagi, berdoalah sebelum iqamat dikumandangkan karena waktu di antara adzan dan iqamat merupakan salah satu waktu bagi terijabahinya doa.

Saat iqamat berkumandang, maka tak ada lagi ibadah yang terpenting kecuali menegakkan salat itu sendiri. Maka luruskanlah dan rapatkanlah shaf karena hal itu merupakan unsur kesempurnaan salat serta jalan untuk mencegah masuknya setan pengganggu salat.

Bersikap Tenang

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam selalu thuma’ninah (bersikap tenang) dalam melakukan salat hingga setiap tulang belulangnya kembali ke tempat semula. Orang yang tidak menyempurnakan bagian-bagian salatnya, seperti rukuk dan sujud, dijuluki sebagai orang yang mencuri sebagian salatnya.

Rasulullah juga mengomentari orang yang tidak sempurna sikap tenangnya dalam melakukan gerakan-gerakan salat ini, “Perumpamaan orang yang tidak sempurna rukuknya dan mematuk dalam sujudnya adalah seperti seorang yang sedang kelaparan yang makan sebuah kurma dan dua buah kurma, di mana keduanya tidak ada manfaatnya sama sekali terhadapnya.” (Riwayat Ath-Thabarani, hasan)

Orang yang tidak thuma’ninah ketika shalat tidak mungkin melakukan shalatnya dengan khusyu’. Sebab, melakukan shalat dengan cepat-cepat dapat menghilangkan kekhusyukan. Sedangkan melakukan shalat seperti seekor burung yang mematuk akan dapat menghilangkan pahala daripada salat itu sendiri.

Mengingat Mati dalam Salat

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah mengisyaratkan tentang masalah ini,


“Ingatlah kematian dalam solatmu. Karena sesungguhnya seseorang jika mengingat kematian di dalam salatnya, niscaya dia akan bermaksud untuk memperbaiki solatnya. Dan lakukanlah solat sebagaimana solat seseorang yang tidak pernah mengira bahwa dia akan dapat melakukan selain salat yang dilakukannya itu.”

- (Dinukil di As-Silsilah Ash-Shahihah, Al-Albani, nomer 1421, Al-Hafidz Ibn Hijr menyatakan hadits ini sebagai hadits hasan)

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah memberikan nasihat terhadap Abu Ayyub rahimahullah,

“Jika engkau telah berdiri di dalam solatmu, maka lakukanlah solat sebagaimana salat seseorang yang akan meninggalkan".

- (Riwayat Ahmad).

Maksud hadits di atas adalah melakukan salat sebagaimana orang yang salat sedangkan dia mengira bahwa dia tidak akan pernah dapat melakukannya kembali selain salat yang sedang dilakukannya itu.


Jika seseorang yang solat itu berperasaan bahwa dia akan mati, sedangkan kematian itu pasti akan datang, dia juga berperasaan bahwa salatnya itu adalah salat yang paling akhir dilakukan, maka dia akan melakukannya dengan khusyu’, sebab dia tidak mengetahui mungkin solat itulah memang benar-benar salat yang paling akhir dia lakukan.

Tiga hal di atas merupakan hal awal yang merupakan sebab bagi terwujudnya kekhusyukan salat. Tentu, tidak terbatas sekedar hal-hal di atas, masih ada sebab-sebab bagi terwujudnya kekhusyukan salat, baik termasuk kategori pertama maupun yang kedua..



Tuesday, December 15, 2009

Asabun Nuzul/ Sebab- sebab turunnya ayat Al Quran


Selasa , 15 Disember 2009/28 Zulkaedah 1430

Asbābun Nuzūl (Arab: اسباب النزول, Sebab-sebab Turunnya (suatu ayat)) adalah ilmu Al-Qur'an yang membahas mengenai latar belakang atau sebab-sebab suatu atau beberapa ayat al-Qur'an diturunkan.

Pada umumnya, Asbabun Nuzul memudahkan para Mufassir untuk menemukan tafsir dan pemahaman suatu ayat dari balik kisah diturunkannya ayat itu. Selain itu, ada juga yang memahami ilmu ini untuk menetapkan hukum dari hikmah dibalik kisah diturunkannya suatu ayat.[1]

Ibnu Taimiyyah mengemukakan bahwa mengetahui Asbabun Nuzul suatu ayat dapat membantu Mufassir memahami makna ayat. Pengetahuan tentang Asbabun Nuzul suatu ayat dapat memberikan dasar yang kokoh untuk menyelami makna suatu ayat Al-Qur’an.[2]


Untuk lebih memahami kandungan ayat-ayat Al Qur’an, memerlukan pengetahuan ihwal latar belakang turunnya ayat-ayat Al Qur’an, atau yang sering disebut asbabun nuzul (sebab-sebab turunnya [suatu ayat]). Dengan mengetahui asbabun nuzul suatu ayat, kita akan lebih memahami makna dan kandungan ayat tersebut, serta akan terlepas dari keragu-raguan dalam menafsirkannya.

Ibnu Taimiyyah mengemukakan bahwa mengetahui asbabun nuzul suatu ayat dapat menolong kita memahami makna ayat tersebut. Pengetahuan ihwal asbabun nuzul suatu ayat memberikan dasar yang kokoh untuk menyelami makna suatu ayat Al Qur’an.

Dalam sejarah dikemukakan bahwa para ulama salaf pernah mengalami kesulitan dalam menafsirkan beberapa ayat Al Qur’an. Namun setelah mendapatkan asbabun nuzul ayat-ayat tersebut, mereka tidak lagi mendapat kesulitan dalam menafsirkannya.

Conton Asabun Nuzul:

Asbabun Nuzul (Sebab-Sebab Turunnya Ayat) Surat Al Qadr (1-3)

“Sesungguhnya Kami telah menurunkan (Al Qur’an) pada malam kemuliaan. Dan tahukah kamu apakah malam kemuliaan itu? Malam kemuliaan itu lebih baik dari seribu bulan. Pada malam itu turun malaikat-malaikat dan Malaikat Jibril dengan izin Rabb-nya untuk mengatur segala urusan. Malam itu (penuh) kesejahteraan sampai terbit fajar.” (QS. Al Qadr: 1 – 5)

Dalam suatu riwayat dikemukakan bahwa Rasulullah saw. pernah menyebut-nyebut seorang Bani Israil yang berjuang fisabilillah menggunakan senjatanya selama seribu bulan terus menerus. Kaum muslimin mengagumi perjuangan orang tersebut. Maka Allah menurunkan ayat ini (QS. Al Qadr: 1-3) yang menegaskan bahwa satu malam lailatul qadr lebih baik daripada perjuangan Bani Israil selama seribu bulan itu.
(Diriwayatkan oleh Ibnu Abi Hatim dan Al Wahidi, yang bersumber dari Mujahid)


Dalam riwayat lain dikemukakan bahwa di kalangan Bani Israil terdapat seorang laki-laki yang suka beribadah malam hari hingga pagi dan berjuang memerangi musuh pada siang harinya. Perbuatan itu dilakukannya selama seribu bulan. Maka Allah menurunkan ayat ini (QS. Al Qadr : 1-3) yang menegaskan bahwa satu malam lailatul qadr lebih baik daripada amal seribu bulan yang dilakukan oleh seorang laki-laki dari Bani Israil tersebut.


- (Diriwayatkan oleh Ibnu Jarir yang bersumber dari Mujahid).




Sumber : Kitab Asbaabun Nuzuul (Latar Belakang Historis Turunnya Ayat-Ayat Al Qur’an)

Monday, December 14, 2009

Perintah belajar dan mengajar


22- عَنِ ابْنِ مَسْعُودٍ قَالَ لِي رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ تَعَلَّمُوا الْعِلْمَ وَعَلِّمُوهُ النَّاسَ تَعَلَّمُوا الْفَرَائِضَ وَعَلِّمُوهُ النَّاسَ تَعَلَّمُوا الْقُرْآنَ وَعَلِّمُوهُ النَّاسَ فَإِنِّي امْرُؤٌ مَقْبُوضٌ وَالْعِلْمُ سَيُقْبَضُ وَتَظْهَرُ الْفِتَنُ حَتَّى يَخْتَلِفَ اثْنَانِ فِي فَرِيضَةٍ لَا يَجِدَانِ أَحَدًا يَفْصِلُ بَيْنَهُمَا. (الدارمي والدارقطني)


22 - Dari Ibnu Mas'ud ra., dari Nabi s.a.w., sabdanya: "Pelajarilah ilmu-ilmu agama dan ajarkanlah dia kepada orang ramai; - pelajarilah perkara-perkara yang difardukan dalam Islam dan ajarkanlah dia kepada orang ramai; pelajarilah Al-Qur'an dan ajarkanlah dia kepada orang ramai; kerana sebenarnya aku seorang yang akan mati (seperti makhluk-makhluk yang lain) dan ilmu juga akan diambil (kembali oleh Tuhan dan hilang lenyap) dan akan lahirlah berbagai-bagai fitnah kekacauan sehingga akan berselisih dua orang dalam satu perkara yang difardukan, yang mereka tak dapat seorang pun yang boleh menyelesaikan perkara yang diperselisihkan itu".


(Ad-Darimi dan Ad-Daruqutni)


Hadis yang kedua puluh dua ini mengandungi:
(1)
Perintah belajar dan mengajar.
(2)
Amaran tentang kehilangan Ilmu dan akibatnya.


Huraiannya:


(1) Perintah belajar dan mengajar:

Ilmu yang diperintahkan belajar dan mengajarnya, sebagaimana yang diterangkan dalam hadis ini ialah:
Pertama - Segala ilmu
pengetahuan yang berhubung dengan agama.
Kedua - Ilmu yang difardukan seseorang mempelajarinya untuk bawaan dirinya sendiri dan juga untuk orang lain.
Ketiga - Ilmu yang berhubung secara
khusus dengan Al-Qur'an.


Sebagai sebuah kitab suci, kalam Allah yang wajib dijaga dan dipelihara dari sebarang pindaan dan pengubahan, baik pada sebutannya mahu pun pada cara bacaannya, maka Rasulullah s.a.w. menegaskan secara khusus tentang wajibnya belajar dan mengajar ilmu yang tersebut untuk mengesahkan benarnya apa yang dijaminkan oleh Allah Taala pada ayat 9, Surah Al-Hijr, yang bermaksud: "Sesungguhnya Kami menurunkan Al-Qur'an dan Kamilah yang memeliharanya."


(2) Amaran tentang kehilangan ilmu dan akibatnya:

Oleh sebab Rasulullah s.a.w. ialah yang menyampaikan ilmu-ilmu agama dan Baginda juga seorang manusia yang akan mati maka Baginda menyuruh umatnya belajar dan mengajar segala jenis ilmu pengetahuan yang disampaikannya, kerana dengan kecuaian belajar dan mengajar maka ilmu pengetahuan akan beransur-ansur hilang, sehinggakan perkara-perkara fardu yang seorang mesti mengerjakannya pun akan berlaku padanya perselisihan dengan tidak didapati orang yang boleh menyelesaikannya.