Thursday, December 31, 2009

Larangan Mengutuk dan Mencela Orang Islam.

Khamis, 31 Disember 2009/14 Zulhijjah 1431

Larangan Mengutuk dan Mencela Orang Islam.

Orang Islam haruslah dihormati kecuali orang islam itu sendiri telah mencabuli kehormatannya enggan melanggar perintah Allah dan Rasulnya. Menjatuhkan kehormatan orang lain dengan kejian, cacian, celaan dan kutukan adalah dilarang keras oleh agama.

Firman Allah swt, Ertinya; "Dan orang-orang yang ,menyakiti orang-orang mukmin tanpa sesalahan yang mereka lakukan, maka sesungguhnya mereka telah memikul kebohongan dan dosa yang nyata".

- (Al-Ahzab: 58)

Mengutuk orang mukmin tanpa alasan yang hak adalah satu dosa besar. Sabda Nabi saw, yang bermaksud: "Mengutuk orang mukmin itu sepertilah membunuhnya"
- (AR Al Bukhari)

"Mencerca orang mukmin itu adalah fasik dan membunuhnya adalah kafir"
( Hadis Muttafaq 'Alaih)

"Tidak menuduh seorang mukmin akan mukmin yang lain dengan fasik atau kafir, melainkan tuduhan itu kembali kepadanya jika kawannya yang dituduh itu bukan seperti yang dituduh".

- ( HR Al-Bukhari, Ahmad, Ibnu Hibban)

" Sesungguhnya sesorang itu apabila ia mengutuk sesuatu, maka kutukan itu naik ke langit, lantas pintu-pintu langi ditutup untuknya, lalu ia turun ke bumi, maka ditutup pintu-pintu untuknya, kemudia ia berpaling ke kanan dan ke kiri. Apabila ia tidak memperolehi tempat ia kemabli kepada benda yang dikutuk, jika ia berhak dengan kutukan itu, dan jika tidak, kembalilah ia kepada orang yang mengutuknya sendiri".

(HR. Abu Daud dan Ahmad)

Kutukan hanya bolah dilakukan terhadap orang kafir, munafik dan orang-orang yang dikutuk Allah dan rasul. Orang-orang yang berbuat maksiat juga boleh dikuruk atau adi cela dengan syarat nama tidak disebut secara terang-terangan. Kutukan terlarang secara mutlak terhadap orang-orang yang mukmin yang baik-baik.

Firman allah swt, bereti: " Kemudian marilah kita meminta sungguh-sungguh (kerpada Allah) supaya laknat Allah ditimpakan kepada orang-orang ynag dusta"

-( Ali "Imran: 45)





Wednesday, December 30, 2009

Jenis -jenis Furudh mengikut ketentuan di dalam Al-Quran.

Rabu, 30 Disember 2009/12 Zulhijjah 1431


Jenis -jenis Furudh mengikut ketentuan di dalam Al-Quran.

1. 1/2 (setengah)
2.1/4 (seperempat)
3. 1/8 (seperlapan)
4. 1/3 (sepertiga)
5. 1/6 (satu perenam)

Ahli waris ynag dinaskan dalam Al Quran, hanyalah seramai 8 orang sahaja. sedang selainnya dinyatakan dalam hadis-hadis Nabi dan ijmak ulama.

Pertama: 1/2 (sepedua) - Ahli waris yang mendapat seperdua harta pusaka ini ialah:

1. Suami- dengan syarat si mati tidak meninggalkan anak, atau anak laki-laki dan anak laki-laki (cucu). Sebab anak laki-laki dari anak laki-laki sam dengna anak kandung menurut ijmak ulama.

Firman: "Dan bagimu 1/2 dari apa yang ditinggalkan isteri,mu, bila ia tidak ada anak"

2. Anak perempuan - bila ia hanya sendiri saja.


3. Anak perempuan dari anak laki-laki (cucu)a engna syarat;

a) Bila seorang diri.
b) Tidak ada anak perempuan kandung.
c) Tidak ada anak laki-laki.
d) Tidak ada pula anak laki-laki dari anak laki-laki (cucu)
(Sebab anak perempuan dari anak laki-laki adalah sama dengna anak perempuan kandung, menurut ijmak ulama)

4. Saudara peremuan seibu sebapa, dengan syarat:

a) Bila seorang diri.
b) Tidak ada anak perempuan kandungak
c) Tidak ada perempuan dari anak laki-laki.
d) Tidak anak laki-laki
e) Tidak ada anak laki-laki dari anak laki-laki.
f) Tidak ada bapa
g) Tidak ada bapa dari dari bapa (datuk)
h) Tidak ada saudara laki-laki kandung.


5. Saudara perempuan sebapa dengna syarat:

a) Bila ia seorang diri
b) Tidak ada saudaraperempua kandung
c) Tidak ada saudara ada laki-laki kandung
d) Tidak ada anak laki-laki
e) Tidak ada anak laki-laki dari anak laki-laki
f) Tidak ada bapa
g) Tidak ada datuk
h) Tidak ada anak perempuan
i) Tidak ada anak perempuan dari anak laki-laki.
j) Tidak ada saudara laki-laki sebapa.

Kedua: 1/4 (seperempat)

1. Suami, kalau si mati meninggalkan anak.

2. Isteri, apabila suami yang meninggal itu tidak ada meninggalkan anak.

Ketiga: 1/8 (seperlapan)

Yang 1/8 ini adalah bahagian isteri kalau suami ada meninggalkan anak

Keempat: 2/3 (dua pertiga)

Yang mendapat dua pertiga warisan ialah"

1. Anak perempua kandung , dengan syarat
a) Bila ia lebih dari seorang.
b) Tidak ada saudaranya yang laki-laki

2. Anak perempuan dari anak laki-laki, dengn syarat"

a) Kalau ia lebih dari seorang
b) Tidak ada anak kandung dari si mati, baik laki-laki mau pun perempuan.
c) Tidak ada saudaranya yang laki-laki

3. Saudara prempuan kandung, dengan syarat.

a) Bila ia lebih dari seorang
b) Tidak ada anak si mati
c) Tidak ada bapa
d) Tidak ada datuk
e) Tidak ada saudara laki-lai
f) Tidak ada anak dari laki-laki atau perempuan.

4. Saudara perempuan sebaba, dgn syarat

a) Bila lebih dari seorang
b) Tidak ada bapa
c) Tidak ada datuk
d) Tidak ada saudara kandung bagi si mati
e) Tidak ada sudaranya yang lelaki-laki
f) Tidak anaka yang sekandung bagi simati

Kelima: 1/3 (Sepertiga)

Yang dapat sepertiga warisan ialah:

1. Ibu, dengan syarat.

a) Kalau si mati tidak meninggalkan anak
b) Tidak pula meninggalkan saudara yang berbilang( dua atau lebih) _ baik laki-laki mau pun perempuan.
c) Jangan ada salah seorang dari suami atau isteri atau isteri-isteri beserta bapa. Kalau ada, ibu mengambil 1/3 dari harta yang tinggal, setelah suami atau isteri mengambil bahagiannnya.

2. Dua orang saudara seibu atau lebih, baik laki-laki maupun perempuan. dengan syarat:
a) Tidak ada anak yang mewarisi dari si mati
b) Tidak ada bapa atau datuk.

Tuesday, December 29, 2009

Tiga Perkara akan berada di bawah perlindungan Arasy

Selasa, 29 Disember 2009/12 Muharram 1431.


Abdul Rahman Ibni Auf ra, meriwayatkan bahawa Rasulullah saw bersabda:

"Pada hari pengadilan kelak tiga perkara berada di bawah perlindungan Arasy. Pertama adalah Al-Quran yang Mulia yang akan beerhujjah dengan manusia. Al Quran mempunyai jasmani dan rohani. Kedua ialah amanat (trust). Ketiga ialah tali persaudaraan (silatiurrahim) yang akan mengisytiharkan , " Wahai Allah! Berilah rahmat kepada orang yang mempertahankan daku dan tariklah rahmat daripada sesiapa sahaja yang mensia-siakan daku"


1. Ungkapan Al-quran akan berhujjah bermaksud bahawa dia aakan memohon sesuatu bagi pihak mereka yang membcanya,menghormatinya dan beramal dengan segala perintah-perintahnya . Ia akan menjadi syafaat bagi pihak mereka dan memohonkan peningkaytan untuk mereka. Al- Quran akan meminta kepada Allah untuk memberikan pakaian kepada pembacanya. Allah Taala akan mmemberikan mahkota kemuliaan. Al quran akan sekali lagi memohon supaya Allah diberkan nikmat-nikmat tambahan kepadanya. Dengan ini Allah akan menghadiahkannya pakaian kemuliaaan yang selengkapnya. Al Quran sekali lagi akan meminta Allah supaya kasih kepadanya dan Allah yang Maha Perkasa akan menyatakan kesukaanNya (keredhaanNya) kepadanya.

Monday, December 28, 2009

HUKUM FARAID YANG KURANG DIPELAJARI

Isnin 28 Disember 2009/ 11 Muharram 1431


HUKUM FARAID YANG KURANG DIPELAJARI.

Ilmu yang berkaitan dengan faraid sangat kurang diketahui atau dipelajarai di kalangan umat Islam. MUJURLAH Bila ada sesuatu masalah ynag beraitan, Jabatan agama Islam akan dirujuk untuk mendapatkan keadah faraid itu dilaksanakan UNTUK TUJUAN MENUNTUT hak perawisan harta ynag ditinggalkaann unyuk ketentuan waris-waris ynag sah dan layak seperti anak, isteri, suami, ibu bapa, dll, .

Harta yang dibahagikan kepaad waris adalah baki ynag ditinggalkan setelah ditolak segala pembayaran pengurusna jenazah, hutang-hutang pewaris sama da berbentuk agama sperti zajak, nazar dll atau hutang kepada manusia dan menunaikan wasiat ynag dibenarkan oleh syarak.

Oleh kerana ilmu ini sangat penting sebagai mmemathui perintah Allah ynag telah menetapkan pembahagian harat pusaka, sanagt elok kita sebagai umat islam mempekajarinya dengan mendapatkan guru ynag mengetahui mengenai perakar ini.


Sabda Rasulullah saw:

Pelajarilah ilmu Faraid dan ajarkanlah kepada orang lain. Sesungguhnya aku akan mati, ilmu ini juga akan mati dan akan berlaku kacau-bilau. Sehingga apabila dua orang berrtelingkah kerana harta pusaka, mereka tidak akan dapat menemui sesiapa yang b oleh menyelesaikan kes mereka"

- Hadis riwayat al-Hakim daripada Ibnu Mas’ud



Faraid , ertinya bahagian atau qadar. Mengikutdari segi bahasa bermaksud ketetapan.

Menurut istilah syarak, Faraid adalah pembahagian harta pusaka selepas kematian seseorang Islam yang telah ditetapkan di bawah Hukum Syarak ke atas wti bahagian ynag ditentukabn dari harta benda yang akan dipusakai.

Ilmi faraid ini dikenali juga dengan nama ilmu untuki memahami pembahagian harta pusaka , ilmu hitung yang dapataris- istilah syara iap orang yang mempunyai hak pada tirkah ( harta benda yng ditinggalkan si mati)


' Firman Allah swt:

" Bagi laki-laki ada bahagian pada barang yang ditinggalkan ibu bapa dan kerabat-kerabat dan bagi perempuan ada pula bahagian pada yang vditinggalkan ibu bapa dan kjerabat-kerabat, sedikit atau banyak nenurut pembahagian yang ditentykan"

- ( Surah An- Nisa':aw

Sabda Rasulullah saw;

"Dari Ibnu Abbas ra, di Nabi saw beliau bersabda, " Bahagi-bahagilah harta benda anatar ahli faraid, menurut Kitab Allah"

- (R. Muslim dan Abu daud)




Menurut Islam, selepas kematian seseorang Muslim, maka wujudlah hak-hak tertentu ke atas harta yang ditinggalkannya. Hak-hak tersebut telahpun ditentukan sendiri oleh ALLAH secara khusus di bawah hukum faraid. Pembahagian faraid kepada yang berhak hukumnya adalah WAJIB untuk ditunaikan, dan FARDHU KIFAYAH kepada umat Islam (khususnya waris-waris) untuk menyelesaikannya, sama hukumnya seperti menyembahyangkan jenazah. Pembahagian harta pusaka menurut kaedah dan pelaksanaan Islam adalah suatu pembahagian yang sangat adil dan sistematik kerana ALLAH sebagai pencipta manusia mengetahui dimana letaknya kekurangan dan kelebihan dalam diri manusia itu.

Di dalam surah An-Nisa' ayat 11-13 telah menerangkan tentang kaedah pembahagian Faraid dengan jelas, manakala dalam surah yang sama ayat yang ke-14 Allah telah mengecam manusia yang beriman sekiranya ingkar dengan perintah ALLAH ini.

Maksud surah An-Nisa' (ayat 14):

"Dan barangsiapa yang mendurhakai Allah dan Rasul-Nya dan melanggar ketentutan-ketentuan-Nya, nescaya ALLAH akan memasukkannya kedalam api neraka sedang ia kekal di dalamnya; dan baginya seksa yang menghinakan".

Ini jelas menunjukkan bahawa sekiranya umat Islam itu ingkar dengan ketentuan ALLAH, maka ALLAH akanmelemparkan ke dalam api neraka selama-lamanya. Ini menunjukkan bahawa suatu ancaman yang amat berat bagi mereka yang mengabaikan pelaksanaan hukum Faraid dalam pembahagian harta pusaka.

Sekiranya pembahagian Faraid diabaikan, dikhuatiri akan berlaku:

  • Memakan harta anak yatim

  • Memakan harta saudara-mara
  • Memakan harta Baitulmal


Walaupun hukumnya adalah jelas WAJIB, namun realitinya, sebanyak sejuta kes tanah pusaka di Malaysia (laporan Pejabat Tanah) dianggar bernilai RM38 bilion masih tidak dapat diselesaikan kerana masalah pewarisan dan 90% daripadanya adalah milik orang Melayu (yang rata-ratanya beragama Islam). Begitu juga mengikut laporan KWSP, lebih daripada RM70 juta wang KWSP tidak dituntut oleh waris. Ini bermakna begitu banyak sekali harta-harta umat Islam yang terbeku dan mereka yang berhak dan layak tidak mendapat bahagian mereka. Ini juga bermakna sistem faraid tidak berjalan dengan baik pada ketika ini. Timbul persoalan dari segi hukumnya, siapakah yang akan menanggung dosa-dosa ini?

Di samping itu begitu banyak kes berlakunya pertelingkahan dan perselisihan di kalangan umat Islam kerana merebut harta pusaka sepertimana yang digambarkan oleh Rasulullah di atas. Lebih malang dan amat menyedihkan ada yang menyebut bahawa ALLAH tidak adil dalam menentukan bahagian faraid.

Tetapi sebelum menjadi milik ahli waris secara sab dan sempurna, ada lima perkara yang perlu dilakukan, yakni harta waris akan diproses menerusi hukum fara'idh melalui cara berikut:

(1) Yang mula sekali perlu (bahkan wajib) diperhatikan ialah tentang kedudukan harta waris itu sendiri daripada segi hak dan kaitannya dengan perkara-perkara lain seperti zakat, nazar, kaffarah, haji, gadaian, denda hukum, hutang kepada Allah dan sebagainya.Dengan demikian, jika zakatnya belum dikeluarkan, maka wajib dikeluarkan. Jika sebahagiannya juga ada diperuntukkan untuk nazar oleh si mati, maka wajib ditunaikan.

Jika antara harta itu terdapat gadaian juga wajib ia diasingkan. Jika ada hutang si mati kepada Allah, maka bayarlah hutang itu. Jika semasa hidupnya sudah wajib dia menunaikan haji, tetapi dia tidak pergi menunaikannya, maka wajib juga diasingkan untuk keperluan menghajikannya, begitulah seterusnya

.(2) Setelah cara pertama yang di atas dapat disempurnakan, maka baki harta itu diperuntukkan pula untuk perbelanjaan perlaksanaan fardhu kifayahnya, seperti membeli kain kafan dan keperluan pengkebumiannya menurut yang selayaknya.

(3) Kemudian bakinya yang masih ada dikeluarkan untuk melunaskan segala hutangnya kepada orang lain, iaitu hutang yang sabit mengikut pengakuannya semasa hidup atau yang sabit melalui bukti-bukti yang diperakui kerana hutang itu wajib dibayar bagi pihak si mati.

(4) Daripada baki harta itu lagi dibayarkan (diasingkan) pula untuk keperluan wasiatnya jika ada, iaitu tidak lebih daripada 1/3 (sepertiga) daripada baki harta yang ada setelah perkara-perkara di atas diselesaikan.

Sekiranya dia mewasiatkan semua atau sebahagian hartanya, maka wasiat ini tidak diterima, tetapi cukup dikeluarkan 1/3 (sepertiga) sahaja untuk wasiatnya itu.

(5) Baki harta yang masih ada selepas empat perkara di atas dilakukan, maka itulah dia harta waris yang menjadi milik semua ahli waris yang berhak.Itulah juga harta yang dimaksudkan di dalam hukum faria'id yang wajib dibahagi-bahagikan kepada semua ahli waris yang berhak, sesuai dengan kadar bahagian masin masing. (Nihayah AI-Zain h. 281)


Saturday, December 26, 2009

Kelebihan menuntut ilmu

Sabtu, 16 Disember 2009/9 Muharrram 1431


23- Dari Abu Bakrah ra., Dari Nabi s.a.w., sabdanya: "Jadikanlah dirimu orang alim atau orang yang menuntut ilmu atau orang yang selalu mendengar pelajaran agama, atau pun orang yang mencintai (tiga golongan yang tersebut); dan janganlah engkau menjadi (dari) golongan yang kelima, yang dengan sebabnya engkau akan binasa."


(Al-Bazzar)


Hadis yang kedua puluh tiga ini menyuruh supaya tiap-tiap seorang menentukan sikapnya terhadap ilmu agama.

Huraiannya:


Tiap-tiap seorang dikehendaki
menentukan sikapnya terhadap ilmu pengetahuan agama dengan salah satu dari empat cara, iaitu menjadikan dirinya orang alim yang mengajar atau orang yang belajar atau orang yang mendengar syarahan-syarahan agama atau pun orang yang mencintai dan menghargai salah satu dari tiga golongan yang tersebut dengan menurut jejak langkahnya.


Dengan sikap yang demikian, seseorang itu terjamin untuk mendapat keselamatan dan kebahagiaan, sama ada dalam perkara jasmaninya mahu pun rohaninya, kerana ia sentiasa dalam jagaan ilmu pengetahuan yang memimpinnya ke jalan yang benar dan memberinya kesedaran untuk


memilih yang baik dari yang buruk dan yang hak dari yang batil.


Ada pun golongan yang kelima, iaitu yang tidak termasuk dalam salah satu dari empat golongan yang tersebut, maka mereka adalah golongan yang binasa, kerana mereka tidak ada pimpinan yang dengannya mereka dapat membezakan di antara yang benar dengan yang salah.


Imam Mawardi menyatakan: Bahawa orang yang menganggap ilmu syarak itu tidak ada faedahnya dipelajari dan lebih baik sahaja ditinggalkan, sebenarnya orang itu tenggelam dalam kesesatan dan jauh dan mendapat hidayat pertunjuk, serta ia termasuk dalam golongan yang kelima yang binasa.

Thursday, December 24, 2009

Kelebihan membaca surah Ikhlas.

Kelebihan yang amat bersar bagi mereka yang dapat mengambil masa yang sedikit membaca surah "Qul Huallahu Ahad". Jika dibaca 3 klai iulankan, pahalanya menyami membaca suluruh Al Quran. Ini lah rahmat dnagn ganjaran ynag Allah swt Yang Maha pemurah berikan kepada hambanya yang meukan keredhaanNya.

Diriwayatkan oleh seorang sahabat Abu Sa'id al Khudri ra yang mendapati ada seorang lelaki mengadu kepada Rasulullah saw, tentnag seorang sahabat yang sering mengulangi bacaan surah 'Qul Huallahu Ahad' di dalam solatnya, sedangkan surah ini adalah surah yang pendek dan terlalu sedikit ayatnya ( untuk dibaca di dalam solat) maka Rasulullah saw menjawab;

" Demi diriku di tangannya, sesungguhnya surah ini (surah ikhlas) bersamaan (pahalanya) satu pertiga Al Quran"
- (Riwayat Imam Bukhari)

Oleh itu sama-sama kita ruanghkan msa utuk membaca sebanyk-banyak surah Al Ikhlas ini di masa-masa ynag terluang, khusunya selepas setiap solat fardhu dan masa-masa lain ynag dapat kita membacanya. Insya Allah kita akan mendapat pahala yang berlipat ganda duri masa yang sedikit yang kita khususkan untuk bacaan itu.

Al Quran tetap terpelihara di sepanjang Zaman.

Khamis, 24 Diseber 2009/7 Zulhijjah 1431.

Al Quran tetap terpelihara di sepanjang Zaman.

Al Quran (Qalamullah ) merupakan mu'jizat ynag Agung bagi Nabi Muhamag saw, ia akan tetap terpelihara oleh Allah swt dari unsur dicaabul atau dirosakkan dan tidak akan lenyap dari permukaan bumi ini. keaslian serta keabdian Al Quran akan tetap terpelihara dan dijamin oleh Allah swt sebagaimana FirmanNya dalam surah Al Hajr: 9, yang bermaksud:

"Sesungguhnya Kami telah menurunkan Al Quran dan sesungguhnya Kami telah memeliharanya".

Dengan ini jelaslah bahawa Al Quran akan tetap terjamin keasliannnya dan kemu'jizatannya , keutuhannya sampai ke akhir zaman.

Sedangka mu'jizata Nabi-nabi lain hanya pada waktu Nabi-nabi itu masih hidup, dan setelah wafat , lenyapalah mu'jhizat itu. Ini lah kelebihan-mu'jizat Nabi Muhammad saw dibandingkan dengan Nabi-nabi yang lain.