Tuesday, December 15, 2009

Asabun Nuzul/ Sebab- sebab turunnya ayat Al Quran


Selasa , 15 Disember 2009/28 Zulkaedah 1430

Asbābun Nuzūl (Arab: اسباب النزول, Sebab-sebab Turunnya (suatu ayat)) adalah ilmu Al-Qur'an yang membahas mengenai latar belakang atau sebab-sebab suatu atau beberapa ayat al-Qur'an diturunkan.

Pada umumnya, Asbabun Nuzul memudahkan para Mufassir untuk menemukan tafsir dan pemahaman suatu ayat dari balik kisah diturunkannya ayat itu. Selain itu, ada juga yang memahami ilmu ini untuk menetapkan hukum dari hikmah dibalik kisah diturunkannya suatu ayat.[1]

Ibnu Taimiyyah mengemukakan bahwa mengetahui Asbabun Nuzul suatu ayat dapat membantu Mufassir memahami makna ayat. Pengetahuan tentang Asbabun Nuzul suatu ayat dapat memberikan dasar yang kokoh untuk menyelami makna suatu ayat Al-Qur’an.[2]


Untuk lebih memahami kandungan ayat-ayat Al Qur’an, memerlukan pengetahuan ihwal latar belakang turunnya ayat-ayat Al Qur’an, atau yang sering disebut asbabun nuzul (sebab-sebab turunnya [suatu ayat]). Dengan mengetahui asbabun nuzul suatu ayat, kita akan lebih memahami makna dan kandungan ayat tersebut, serta akan terlepas dari keragu-raguan dalam menafsirkannya.

Ibnu Taimiyyah mengemukakan bahwa mengetahui asbabun nuzul suatu ayat dapat menolong kita memahami makna ayat tersebut. Pengetahuan ihwal asbabun nuzul suatu ayat memberikan dasar yang kokoh untuk menyelami makna suatu ayat Al Qur’an.

Dalam sejarah dikemukakan bahwa para ulama salaf pernah mengalami kesulitan dalam menafsirkan beberapa ayat Al Qur’an. Namun setelah mendapatkan asbabun nuzul ayat-ayat tersebut, mereka tidak lagi mendapat kesulitan dalam menafsirkannya.

Conton Asabun Nuzul:

Asbabun Nuzul (Sebab-Sebab Turunnya Ayat) Surat Al Qadr (1-3)

“Sesungguhnya Kami telah menurunkan (Al Qur’an) pada malam kemuliaan. Dan tahukah kamu apakah malam kemuliaan itu? Malam kemuliaan itu lebih baik dari seribu bulan. Pada malam itu turun malaikat-malaikat dan Malaikat Jibril dengan izin Rabb-nya untuk mengatur segala urusan. Malam itu (penuh) kesejahteraan sampai terbit fajar.” (QS. Al Qadr: 1 – 5)

Dalam suatu riwayat dikemukakan bahwa Rasulullah saw. pernah menyebut-nyebut seorang Bani Israil yang berjuang fisabilillah menggunakan senjatanya selama seribu bulan terus menerus. Kaum muslimin mengagumi perjuangan orang tersebut. Maka Allah menurunkan ayat ini (QS. Al Qadr: 1-3) yang menegaskan bahwa satu malam lailatul qadr lebih baik daripada perjuangan Bani Israil selama seribu bulan itu.
(Diriwayatkan oleh Ibnu Abi Hatim dan Al Wahidi, yang bersumber dari Mujahid)


Dalam riwayat lain dikemukakan bahwa di kalangan Bani Israil terdapat seorang laki-laki yang suka beribadah malam hari hingga pagi dan berjuang memerangi musuh pada siang harinya. Perbuatan itu dilakukannya selama seribu bulan. Maka Allah menurunkan ayat ini (QS. Al Qadr : 1-3) yang menegaskan bahwa satu malam lailatul qadr lebih baik daripada amal seribu bulan yang dilakukan oleh seorang laki-laki dari Bani Israil tersebut.


- (Diriwayatkan oleh Ibnu Jarir yang bersumber dari Mujahid).




Sumber : Kitab Asbaabun Nuzuul (Latar Belakang Historis Turunnya Ayat-Ayat Al Qur’an)

Monday, December 14, 2009

Perintah belajar dan mengajar


22- عَنِ ابْنِ مَسْعُودٍ قَالَ لِي رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ تَعَلَّمُوا الْعِلْمَ وَعَلِّمُوهُ النَّاسَ تَعَلَّمُوا الْفَرَائِضَ وَعَلِّمُوهُ النَّاسَ تَعَلَّمُوا الْقُرْآنَ وَعَلِّمُوهُ النَّاسَ فَإِنِّي امْرُؤٌ مَقْبُوضٌ وَالْعِلْمُ سَيُقْبَضُ وَتَظْهَرُ الْفِتَنُ حَتَّى يَخْتَلِفَ اثْنَانِ فِي فَرِيضَةٍ لَا يَجِدَانِ أَحَدًا يَفْصِلُ بَيْنَهُمَا. (الدارمي والدارقطني)


22 - Dari Ibnu Mas'ud ra., dari Nabi s.a.w., sabdanya: "Pelajarilah ilmu-ilmu agama dan ajarkanlah dia kepada orang ramai; - pelajarilah perkara-perkara yang difardukan dalam Islam dan ajarkanlah dia kepada orang ramai; pelajarilah Al-Qur'an dan ajarkanlah dia kepada orang ramai; kerana sebenarnya aku seorang yang akan mati (seperti makhluk-makhluk yang lain) dan ilmu juga akan diambil (kembali oleh Tuhan dan hilang lenyap) dan akan lahirlah berbagai-bagai fitnah kekacauan sehingga akan berselisih dua orang dalam satu perkara yang difardukan, yang mereka tak dapat seorang pun yang boleh menyelesaikan perkara yang diperselisihkan itu".


(Ad-Darimi dan Ad-Daruqutni)


Hadis yang kedua puluh dua ini mengandungi:
(1)
Perintah belajar dan mengajar.
(2)
Amaran tentang kehilangan Ilmu dan akibatnya.


Huraiannya:


(1) Perintah belajar dan mengajar:

Ilmu yang diperintahkan belajar dan mengajarnya, sebagaimana yang diterangkan dalam hadis ini ialah:
Pertama - Segala ilmu
pengetahuan yang berhubung dengan agama.
Kedua - Ilmu yang difardukan seseorang mempelajarinya untuk bawaan dirinya sendiri dan juga untuk orang lain.
Ketiga - Ilmu yang berhubung secara
khusus dengan Al-Qur'an.


Sebagai sebuah kitab suci, kalam Allah yang wajib dijaga dan dipelihara dari sebarang pindaan dan pengubahan, baik pada sebutannya mahu pun pada cara bacaannya, maka Rasulullah s.a.w. menegaskan secara khusus tentang wajibnya belajar dan mengajar ilmu yang tersebut untuk mengesahkan benarnya apa yang dijaminkan oleh Allah Taala pada ayat 9, Surah Al-Hijr, yang bermaksud: "Sesungguhnya Kami menurunkan Al-Qur'an dan Kamilah yang memeliharanya."


(2) Amaran tentang kehilangan ilmu dan akibatnya:

Oleh sebab Rasulullah s.a.w. ialah yang menyampaikan ilmu-ilmu agama dan Baginda juga seorang manusia yang akan mati maka Baginda menyuruh umatnya belajar dan mengajar segala jenis ilmu pengetahuan yang disampaikannya, kerana dengan kecuaian belajar dan mengajar maka ilmu pengetahuan akan beransur-ansur hilang, sehinggakan perkara-perkara fardu yang seorang mesti mengerjakannya pun akan berlaku padanya perselisihan dengan tidak didapati orang yang boleh menyelesaikannya.

Mengajak sesuatu amalan yang baik

Hadis Ketiga Puluh Satu

31- عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ مَنْ دَعَا إِلَى هُدًى كَانَ لَهُ مِنْ الْأَجْرِ مِثْلُ أُجُورِ مَنْ تَبِعَهُ لَا يَنْقُصُ ذَلِكَ مِنْ أُجُورِهِمْ شَيْئًا وَمَنْ دَعَا إِلَى ضَلَالَةٍ كَانَ عَلَيْهِ مِنْ الْإِثْمِ مِثْلُ آثَامِ مَنْ تَبِعَهُ لَا يَنْقُصُ ذَلِكَ مِنْ آثَامِهِمْ شَيْئًا. (مسلم وأبو داود والترمذي)


31 -Dari Abu Hurairah r.a., dari Nabi s.a.w., sabdanya: "Sesiapa yang mengajak ke jalan mengerjakan sesuatu amal yang baik, adalah baginya pahala sebanyak pahala orang-orang yang menurutnya, dengan tidak mengurangi sedikit pun pahala itu dari pahala-pahala mereka; dan (sebaliknya) sesiapa yang mengajak ke jalan mengerjakan sesuatu amal yang menyesatkan, adalah ia menanggung dosa sebanyak dosa orang-orang yang menurutnya, dengan tidak mengurangi sedikit pun dosa itu dan dosa-dosa mereka."

(Muslim, Abu Daud dan Tirmizi)

Hadis yang ketiga puluh satu ini menerangkan:

Kelebihan orang yang mengajak mengerjakan amal yang baik dan sebaliknya.
Huraiannya:

Sesuatu amal kebajikan, atau sesuatu perkara yang menyesatkan, banyak juga dilakukan orang dengan sebab ajakan atau pimpinan atau pun arahan orang lain. Demikian pula orang yang mengajak itu, banyak juga dapat menarik orang-orang melakukan perkara-perkara yang disebarkannya itu sama ada baik atau buruk.

Oleh itu, sesiapa yang mengajak melakukan sesuatu perkara, maka ia adalah bertanggungjawab terhadap perkara itu.

Dalam hadis ini, Rasulullah s.a.w. menegaskan bahawa setiap orang yang mengajak ke jalan mengerjakan sesuatu amal salih, sama ada amal itu kecil atau besar, maka ia diberi pahala sebanyak pahala yang didapati oleh orang yang menurut ajakannya, kerana dialah yang berusaha menyebabkan amal yang baik itu tersebar dikerjakan orang.

Sebaliknya, sesiapa yang mengajak ke jalan melakukan sesuatu amalan sesat, maka ia akan menanggung dosa, sebanyak dosa yang ditanggung oleh orang-orang yang menurut ajakannya, kerana dialah yang berusaha menyebabkan perkara yang menyesatkan itu tersebar dilakukan orang.

Demikianlah besarnya kelebihan dan kebaikan yang akan didapati oleh orang-orang yang mengajak, memimpin, menunjuk dan menyebabkan berlakunya sesuatu amalan yang diredhai Allah; dan sebaliknya amatlah besar padahnya bagi orang-orang yang menyebabkan berlakunya sebarang perkara yang dimurkai Allah `Azza wa Jalla.

Sunday, December 13, 2009

Menjelang Tahun baru 1431

Ahad 13 Disember 2009/26 Zulhijjah 1430

Hari Awal Muharram atau Hari Maal Hijrah yang jatuh pada hari Jumaat, pada 18 Disember 2009, merupakan suatu hari yang penting bagi umat Islam kerana ia menandakan peristiwa penting yang berlaku dalam sejarah Islam. Ia memperingati penghijrahan Nabi Muhammad dari Kota Makkah ke Madinah pada tahun 622 Masihi. Berlaku pada 1 Muharram, ia merupakan hari pertama Takwim Hijrah

Dalam masa 5 hari lagi kita akan berada di tahun baru Awal Muharram 1431. Kita akan meninggalkan tahun 1430 dengan membawa kenangan sebagai peringatan dan pengalaman yang akan digunakan untuk tahun-tahun yang akan datangbagi memperbaiki hiudup di tahun yang baru ini.

Bagi kita amatlah digalakkan supaya bermuhasabah diri dengan tujuan memperbaiki lagi prestasi atau amalan kita di tahun yang akan datang supaya lebih baik lagi dari tahun lalu. Kita akan dapat menilai kembali apa yang telah kita lakukan dengan memperbaiki lagi apa-juag kelemahan atau kekurangan dan menambah nila amalan dan seterusnya meninggalkan perkara-perkara yang tidak baik serta tidak mengulangi apa yang tidak sepatutnya kita lakukan.

Cara yang terbaik ialah dengan berfikir sejenak atau bermusabah diri dan cuba mengatasi masalah yang dilalui dengan pendekatan yang baru. Cuba renungkan apakah yang telah kita lakukan sepanjang tahun dengan peningkatan umur dan masa yang dilalui. Adakah apa juga masa, kekakayaan yang Allah berikan benar-benar telah digunakan untuk mendapat keredhaan Allah atau telah disia-siakan sahaja berlalu?

Hari Maal Hijrah atau Awal Muharram Ini adalah suatu hari yang penting bagi umat Islam kerana ia menandakan dua peristiwa penting berlaku dalam sejarah Islam. Pertama, memperingati penghijrahan Nabi Muhammad dari Kota Mekkah ke Madinah pada tahun 622 masihi, dan kedua, ia merupakan hari keagamaan di mana umat Islam mengadakan solat sunat di masjid-masjid di seluruh negeri. Hari Maal Hijrah atau Awal Muharram merupakan hari cuti umum di Malaysia dan merupakan permulaan tahun hijrah bagi umat Islam.

KISAH HIJRAH
RASULULLAH (SAW) berusia 40 tahun apabila malaikat Jibrail (as) melawat baginda ketika baginda sedang bertafakur di Gua Hira. Jibrail memberitahu Nabi Muhammad, baginda diangkat oleh Allah SWT sebagai rasul untuk seluruh umat manusia. Pada peringkat awal, Rasulullah hanya memperkenalkan Islam kepada sahabat terdekat dan ahli keluarga baginda. Apabila baginda menerima perintah daripada Allah SWT supaya berdakwah secara terbuka, baginda segera akur.

Baginda mengumpul beberapa pengikut di Makkah. Begitupun, kumpulan kecil Muslim itu terdedah kepada maut berikutan ancaman daripada kaum kafir, terutama bangsa Quraish, yang menyeksa mereka dengan teruk. Bagi mengelakkan ancaman itu, Rasulullah SAW mengarahkan pengikutnya supaya keluar dari Makkah secara senyap-senyap ke Madinah (ketika itu dikenali sebagai Yathrib). Mereka meninggalkan keluarga yang kafir dan harta benda dan disambut dengan mesra oleh penduduk Madinah. Satu hari pada tahun 622M, iaitu kira-kira 12 tahun selepas berdakwah di Makkah, Rasulullah SAW diberitahu kaum kafirun Makkah merancang membunuh baginda untuk memusnahkan Islam.
Rasulullah menunggu perintah daripada Allah SWT. Malaikat Jibrail (as) menemui baginda untuk memberitahunya Allah SWT mengarahkan baginda supaya meninggalkan Madinah pada waktu malam. Berikutan itu, baginda menemui sahabat baiknya Abu Bakar as-Siddiq (ra) dan memintanya supaya menemani baginda dalam perjalanan itu.

Rasulullah juga memberitahu rancangan baginda kepada Ali bin Abi Talib (ra). Baginda memberitahunya: "Saya akan berhijrah tetapi anda perlu mengambil tempat saya di rumah." Ali (ra) tanpa banyak soal menuruti permintaan Rasulullah (SAW) walaupun menyedari bahaya bakal dihadapinya. Malam itu, sekumpulan Quraish mengepung rumah Rasulullah (SAW). Mengintai melalui lubang di pintu, mereka nampak seseorang sedang tidur di atas katil Rasulullah (SAW). Mereka begitu yakin Rasulullah tidak dapat melepaskan diri dan mereka pasti dapat membunuh baginda. Apabila fajar menjelang, mereka terperanjat melihat Ali (as) dan bukannya Rasulullah (SAW) bangun dari katil itu. Mereka terpinga-pinga memikirkan bila Rasulullah (SAW) keluar dari rumah itu. Rasulullah (SAW) dan Abu Bakr (as) keluar dari Makkah pada malam itu juga. Tiada siapa mengetahui arah tujuan mereka dan tiada siapa tahu tempat persembunyian mereka kecuali Abdullah dan anak-anak Abu Bakr, Aishah dan Asma, serta orang gaji mereka, Abdullah.

Rasulullah (SAW) dan Abu Bakr bersembunyi dalam sebuah gua di Gunung Thaur. Selama tiga hari mereka berada dalam gua itu. Apabila kaum Quraish menghampiri gua itu untuk mencari Rasulullah (SAW) tetapi mereka tidak memasukinya. Mereka yakin Rasulullah (SAW) dan Abu Bakr (as) tidak berada di dalam kerana mulut gua itu dilitupi oleh benang sarang labah-labah dan sepasang burung merpati.

Allah SWT membantu dua insan ini, melindungi mereka daripada bahaya. Kumpulan Quraish kemudian meninggalkan gua itu dan bersetuju untuk pulang ke Makkah. Yakin musuh sudah beredar, Rasulullah (SAW) dan Abu Bakr (as) meneruskan perjalanan dengan menaiki unta dibawa oleh orang gaji mereka, Abdullah.

Ketiga-tiga mereka menggunakan laluan tidak diketahui ramai untuk ke Madinah bagi mengelakkan kumpulan pemburu Quraish. Mereka meredah gunung, bukit dan gurun di bawah perit matahari tetapi mereka tidak pernah berputus asa. Mereka meletakkan segala kepercayaan kepada Allah SWT. Sementara itu, kaum Quraish di Makkah semakin marah dengan kehilangan Rasulullah (SAW). Mereka menawarkan hadiah kepada sesiapa yang dapat menangkap Rasulullah (SAW). Ramai yang mencuba nasib tetapi semuanya gagal. Akhirnya dengan perlindungan Allah SWT, Rasulullah (SAW) dan sahabatnya tiba perkampungan kaum Bani Sabin yang menyambut mereka dengan gembira. Setelah sekian lama, Rasulullah (SAW) dan sahabatnya akhir merasakan kehadiran harapan untuk masa depan. Ketika Rasulullah (SAW) dan sahabatnya dalam perjalanan, penduduk Islam yang sudah berpindah ke Madinah sebelum ini mendengar berita mengenai kedatangan pemimpin mereka itu.

Malah penduduk Madinah yang baru memeluk Islam juga gembira dapat bertemu Rasulullah (SAW). Jelaslah, sebelum tibanya Rasulullah di Madinah, Islam semakin kukuh di tempat baru itu, sesuatu yang tidak berlaku ketika berada di Makkah. Maka pada hari Isnin 8 Rabiulawal bersamaan 20 September 622M, Rasulullah (SAW) akhirnya tiba di Quba, sempadan Madinah dan benar-benar masuk ke Kota Madinah pada 12 Rabiulawal, hari Jumaat dan mendirikan solat Jumaat yang pertama di Kampung Bani Amar. Kaum Muslimin semua keluar untuk menyambut baginda. Bertitik tolak dari itu, Rasulullah (SAW) mula membina sebuah negara Islam yang megah. Baginda memupukkan persaudaraan di kalangan umat Muslim dan menyeru mereka supaya menegakkan yang hak dan mengikut segala perintah Allah SWT.
Kesan daripada penghijrahan Rasulullah (SAW) dari Makkah ke Madinah adalah satu catatan penting sehingga umat Islam menjadikan tahun peristiwa bersejarah ini sebagai tahun permulaan kalendar Islam.



PERISTIWA PENTING DALAM MUHARAM

1. 1 Muharam - Khalifah Umar Al-Khattab menetapkan adalah hari pertama bagi setiap tahun baru Islam (Kalendar Hijriah).


2. 10 Muharam - Dinamakan juga hari 'Asyura'. Pada hari itu banyak terjadi peristiwa penting yang mencerminkan kegemilangan bagi perjuangan yang gigih dan tabah bagi menegakkan keadilah dan kebenaran.



Pada 10 Muharam juga telah berlaku:


1. Nabi Adam bertaubat kepada Allah.
2. Nabi Idris diangkat oleh Allah ke langit.
3. Nabi Nuh diselamatkan Allah keluar dari perahunya sesudah bumi ditenggelamkan selama enam bulan.
4. Nabi Ibrahim diselamatkan Allah dari pembakaran Raja Namrud.
5. Allah menurunkan kitab Taurat kepada Nabi Musa.
6. Nabi Yusuf dibebaskan dari penjara.
7. Penglihatan Nabi Yaakob yang kabur dipulihkkan Allah.
8. Nabi Ayub dipulihkan Allah dari penyakit kulit yang dideritainya.
9. Nabi Yunus selamat keluar dari perut ikan paus setelah berada di dalamnya selama 40 hari 40 malam.
10. Laut Merah terbelah dua untuk menyelamatkan Nabi Musa dan pengikutnya dari tentera Firaun.
11. Kesalahan Nabi Daud diampuni Allah.
12. Nabi Sulaiman dikurniakan Allah kerajaan yang besar.
13. Hari pertama Allah menciptakan alam.
14. Hari Pertama Allah menurunkan rahmat.
15. Hari pertama Allah menurunkan hujan.
16. Allah menjadikan 'Arasy.
17. Allah menjadikan Luh Mahfuz.
18. Allah menjadikan alam.
19. Allah menjadikan Malaikat Jibril.
20. Nabi Isa diangkat ke langit.



14 perkara yang sunat dilakukan pada hari Asyura

1. Melapangkan masa / belanja anak isteri
fadhilat - Allah akan melapangkan hidupnya pada tahun ini.

2. Memuliakan fakir miskin
fadhilat - Allah akan melapangkannya dalam kubur nanti

3. Menahan marah
fadhilat - Di akhirat nanti Allah akan memasukkannya ke dalam golongan yang ridha

4. Menunjukkan orang sesat
fadhilat - Allah akan memenuhkan cahaya iman dalam hatinya

5. Menyapu / mengusap kepala anak yatim
fadhilat - Allah akan mengurniakan sepohon pokok di syurga bagi tiap-tiap rambut yang di sapunya.

6. Bersedekah
fadhilat - Allah akan menjauhkannya daripada neraka sekadar jauh seekor gagak terbang tak berhenti-henti dari kecil sehingga ia mati. Diberi pahala seperti bersedekah kepada semua fakir miskin di dunia ini.

7. Memelihara kehormatan diri
fadhilat - Allah akan mengurniakan hidupnya sentiasa diterangi cahaya keimanan.

8. Mandi Sunat
fadhilat - Tidak sakit (sakit berat)pada tahun itu
lafaz niat : sahaja aku mandi sunat hari Asyura kerana Allah Taala.

9. Bercelak
fadhilat - tidak akan sakit mata pada tahun itu

10. Membaca Qulhuwallah hingga akhir seribu kali
fadhilat - Allah akan memandanginya dengan pandangan rahmah diakhirat nanti

11. Sembahyang sunat empat rakaat
fadhilat - Allah akan mengampunkan dosanya walau telah berlarutan selama 50 tahun melakukannya.
lafaz niat : sahaja aku sembahyang sunat hari Asyura empat rakaat kerana Allah Taala. Pada rakaat pertama dan kedua selepas fatihah di baca Qulhuwallah sebelas kali.

12. Membaca
"has biallahhu wa nik mal wa kila nikmal maula wa nikmannasiru"
fadhilat - Tidak mati pada tahun ini ***semak dengan ustaz/pakar rujuk

13. Menjamu orang berbuka puasa
fadhilat - Diberi pahala seperti memberi sekalian orang Islam berbuka puasa.

14. Puasa
Niat - Sahaja aku berpuasa esok hari sunat hari Asyura kerana Allah Taala.
fadhilat - Diberi pahala seribu kali Haji, seribu kali umrah dan seribu kali syahid dan diharamkannya daripada neraka.

Semoga kita beroleh rahmat dari segala amalan dan perbuatan kita.. InsyaAllah..



Friday, December 11, 2009

Ahli Sunnah Waljamaah

Jumaat 11 Disember 2009/24 Zulakaedah 1430

Ahli Sunnah waljamaah.

Sunnah ialah Sunnah Rasulullah s.a.w., dan jamaah bermaksud kumpulan Sahabat dan Tabien yang bersepakat di atas kebenaran yang nyata dari Kitab Allah dan Sunnah Rasulullah s.a.w.

Pengertian Ahli Sunnah Wal Jamaah ialah kumpulan orang Islam yang berpegang kepada al-Quran, al-Sunnah dan pendapat para Sahabat yang bersepakat di atas kebenaran yang nyata dari Kitab Allah dan Sunnah Rasulullah s.a.w.

Mazhab-mazhab Fekah ialah aliran hukum Syarak yang sah didasarkan di atas tafsiran tertentu terhadap nas-nas Syarak oleh ulama Mujtahidin mengikut kaedah Istinbat yang muktabar. Adapun Mazhab-mazhab seperti Hanafi, Maliki, Syafie , Hanbali adalah terhitung di dalam Mazhab-mazhab yang muktabar yang tergolong di dalam istilah Ahli Sunnah Wal Jemaah.

2. Aqidah Ahli Sunnah Wal Jamaah adalah berlandaskan al-Qur’an, al-Hadith serta ijma‘ ulama. Aqidah Ahli Sunnah menyifatkan Allah dengan sifat-sifat yang telah dinyatakan oleh Allah Ta‘ala sendiri di dalam al-Qur’an dan apa yang telah dinyatakan oleh Rasulullah di dalam hadith Baginda tanpa mereka menyandarkan sifat tasybih atau tajsim bagi Allah, mereka juga menafikan dan menolak bagi Allah itu bersifat duduk, bertempat, berkaki, berbetis, zat yang turun naik dari langit ke bumi, berada di atas langit, berada di atas ‘arasy, dan sebagainya dari sifat yang tidak layak bagi Tuhan yang mencipta segala makhluk-Nya.

Ini semua berdasarkan firman Allah di dalam Surah al-Syura ayat 11 yang bermaksud:
“Tiada sesuatupun yang menyerupai-Nya”.

Aqidah Ahli Sunnah juga mepercayai bahawa Wujud-Nya Allah tanpa diliputi tempat berdalilkan juga dari sabda Nabi Muhammad yang bermaksud:

“Allah telah sedia wujud (azali) dan tiada sesuatupun selain Allah itu azali”.
(Riwayat al-Bukhariyy dalam Sahih al-Bukhariyy)

Hadith Nabi tersebut menunjukkan bahawa Allah sahaja yang wujudnya azali manakala tempat, ‘arasy, langit, dan selainnya bukan azali.

Perkara tersebut wajib diimani berdasarkan juga Ijma‘ para ulama yang telah pun dinukilkan oleh Imam ‘Abd al-Qahir bin Tahir al-Baghdadiyy dalam kitab al-Farq Bayna al-Firaq halaman 333 cetakan Dar al-Ma‘rifah jelas menunjukkan kewujudan Allah bukanlah berada di atas ‘arasy, akan tetapi Allah wujud tanpa diliputi oleh tempat:

“Dan telah disepakati dan di-ijma‘-kan bahawa Allah tidak diliputi tempat”.



Pada dasarnya, Ahli Sunnah Wal Jama’ah adalah mereka yang berpegang dengan aqidah yang dibawa oleh Nabi Muhammad secara fahaman yang betul dan tidak berpegang kepada zahir nas al-Mutasyabihat. Kelompok ulama yang membawa ilmu aqidah Al-Asya’irah merupakan ِulama Ahli Sunnah Wal Jama’ah pada zaman kini seperti Imam Nawawi, Imam Ibnu Hajar al-Asqolaniyy dan puluhan ribu lagi ulama Islam yang menyebarkan ilmu tauhid Al-Asya’irah.

Begitu juga Al-Maturidiyyah merupakan Ahli Sunnah Wal Jama’ah zaman kini seperti pengikut mazhab Imam Abu Hanifah. Rujuk Ithaf as-Saadah al-Muttaqin Bi Syrhi Ehya ‘Ulumiddin oleh Imam Az-Zabidy.



Istilah atau kalimah Ahli Sunnah wal-Jamaah sememangnya sudah tidak asing lagi kepada masyarakat Islam Nusantara. Namun, apabila membincangkan perihal Ahli Sunnah wal-Jamaah terlalu sedikit yang mengetahui pengertian kalimah ini. Oleh itu, perlulah terlebih dahulu difahami pengertiannya (istilah atau definisinya) sama ada disegi bahasa atau syara. Istilah “Ahli Sunnah wal-Jamaah” terdiri dari tiga kalimah, iaitu:

  1. Pertama: Pengertian Ahli

  2. Kedua: Pengertian Sunnah

  3. Ketiga: Pengertian al-Jamaah.

Perkataan “Ahli” mengikut Bahasa Arab secara ringkas boleh diertikan kepada beberapa maksud, antaranya ialah:

1. Ahli bermakusd: "Pakar, Yang Berilmu atau Yang Pandai" sebagaimana firman Allah:

فَسْئَلُوْا اَهْلَ الذِّكْرِ اِنْ كُنْتُمْ لاَ تَعْلَمُوْنَ.

"Maka tanyakanlah olehmu kepada orang-orang yang berilmu jika kamu tidak mengetahui". Al-Anbiya, 21:7.

2. Ahli yang bermaksud "Pengikut atau Anggota" satu-satu aliran (fahaman) atau kumpulan, contohnya sebagaimana yang terdapat dalam firman Allah:

يَا اَهْلَ الْكِتَابِ لِمَ تَكْفُرُوْنَ بِاَيَاتِ اللهِ

"Hai Ahli Kitab! Mengapa kamu mengingkari ayat-ayat Allah padahal kamu mengetahui kebenarannya". Ali Imran, 3:70.

وَاْمُرْ اَهْلَكَ بِالصَّلاَةِ وَاصْطَبِرْ عَلَيْهَا

"Dan perintahkanlah kepada keluargamu mendirikan solat dan bersabarlah kamu dalam mengerjakannya". Taha, 20:132.

Pada ayat ini ahli bermaksud anggota keluarga. Antara contoh-contoh yang lain ialah: Ahli pertubuhan, ahli parlimen, ahli mahzab, ahli sukan dan sebagainya.


1. As-Sunnah: Sunnah menurut pengertian bahasa ialah: Tariqah ( الطريقة) "Jalan"[1] atau sirah (السيرة) "Sirah".[2] Sebagaimana yang dikatakan:

اَلسُّنَّةُ هِيَ الطَّرِيْقَةُ ، مَحْمُوْدَةٌ كَانَتْ اَمْ مَذْمُوْمَةٌ.

"As-Sunnah ialah jalan, sama ada yang terpuji (baik) atau yang keji (jahat)".[3]

2. As-Sunnah: Sunnah menurut syara:

"Apa yang diambil (diterima, dinukil, dipindah dan diriwayatkan) dari Nabi Muhammad sallallahu 'alaihi wa-sallam dan para sahabat baginda berkenaan akidah dan amal". [4] Atau:

"Cara (jalan) yang dicontohkan oleh Rasulullah sallallahu 'alaihi wa-sallam yang dibina (diambil) dari kitab Allah Ta'ala (al-Quran), sunnah RasulNya dan jalan yang ditempuh oleh para sahabat sekalian yang telah diijmakkan oleh mereka".[5]


Pengertian Al-Jamaah

Al-Jamaah diambil dari kalimah (الجمع) yang boleh diertikan kepada beberapa maksud:

1. Al-Jamaah yang bermaksud:

(1). "Mengumpulkan atau menyatu-padukan yang berpecah-belah (bercerai-berai)".[6]

(2). "Bersatu dan lawannya berpecah-belah.

(3). Al-Jamaah juga (diistilahkan untuk) menunjukkan perkumpulan manusia yang bersatu untuk tujuan yang sama".[7]

2. Al-Jamaah: Golongan yang terbesar atau yang paling ramai (السواد الاعظم) dari kalangan umat Islam.[8]

3. Al-Jamaah: Golongan (kalangan) para ulama yang mujtahid.[9]

4. Al-Jamaah: Setiap Umat Islam yang bersatu

di bawah satu amir (pemerintah Islam).[10]

5. Al-Jamaah: Secara khususnya ialah para sahabat Nabi Muhammad sallallahu 'alaihi wa-sallam.[11] Pengertian ini dapat difahami dari sabda Nabi Muhammad sallallahu 'alaihi wa-sallam:

فَعَلَيْكُمْ بِسُنَّتِيْ وَسُنَّةِ الْخُلَفَاءِ الرَّاشِدِيْنَ الْمَهْدِيِّيْنَ

"Hendaklah kamu kembali (ittiba') kepada sunnahku dan sunnah para Khulafa ar-Rasyidin yang mendapat petunjuk selepasku".[12]

6. Al-Jamaah: Setiap mukmin yang mengikut kebenaran yang disampaikan oleh Nabi Muhammad sallallahu 'alaihi wa-sallam[13] walaupun seorang diri sebagaimana athar sahih di bawah ini:

اَلْجَمَاعَةُ : هِيَ الَّتِيْ مَا اَنَا عَلَيْهِ وَاَصْحَابِيْ

"Al-Jamaah: Iaitu (sesiapa yang amal dan akidahnya mengikuti aku atau persis) serupa dengan apa yang ada pada diriku dan para sahabatku (sesiapa yang sepertiku dan para sahabatku)."[14]

اَلْجَمَاعَةُ مَا وَافَقَ الْحَقَّ وَاِنْ كُنْتَ وَحْدَكَ.

"Al-Jamaah (berjamaah) atau (yang dikatakan berada dalam jamaah) ialah apabila (engkau) mengikuti kebenaran sekalipun engkau hanya seorang diri (keseorangan)."[15]

Kebenaran adalah setiap apa saja yang didatangkan oleh Allah dan disampaikan oleh RasulNya yang dikenali sebagai al-Hak (al-Quran dan as-Sunnah). Maka Al-Jamaah yang dimaksudkan oleh syarak ialah sesiapa sahaja yang berittiba' kepada manhaj para sahabat kerana mereka sentiasa memelihara dan mengikut (berittiba') kebenaran yang telah diturunkan oleh Allah kepada RasulNya. Firman Allah:

اَلْحَقُّ مِنْ رَبِّكَ فَلاَ تَكُوْنَنَّ مِنَ الْمُمْتَرِيْنَ.

"Kebenaran itu adalah dari Tuhanmu, sebab itu janganlah sekali-kali kamu termasuk orang-orang yang ragu".

Al-Baqarah, 2:147.

Penafsiran yang paling tepat tentang "Jamaah" ialah:

"Mereka-mereka yang tergolong dari kalangan para sahabat kerana mereka sentiasa di atas kebenaran, ahlinya dan golongan yang teramai (السواد الاعظم) mengikut fahaman (manhaj) salaf yang hak".[16]

Dengan demikian, sesiapa sahaja yang mengikuti (ittiba') manhaj para sahabat dengan baik pasti digolongkan sebagai al-Jamaah. Walaupun al-Jamaah adalah nama sebenar bagi Ahli Sunnah wal-Jamaah, tetapi antara nama-nama lain yang diberikan ialah:

1. Ahli al-Hadis atau Ahli al-Athar.

Berkata Ibn Qaiyim rahimahullah:

"Setiap individu telah mengetahui bahawa Ahli Hadis adalah golongan yang paling benar sebagaimana yang dikatakan oleh Ibn Mubarak: Aku dapati agama berada pada ahli hadis percekcokkan pada golongan Muktazilah, pembohongan pada ar-Rafidah dan banyak berhelah pada Ahli ar-Rakii".[17]

2. Firqah an-Najiah (Firqah al-Mansurah) atau At-Taifah an-Najiah (at-Taifah al-Mansurah). Berkata Ibn Taimiyah rahimahullah:

"Apa yang dikatakan Firqah an-Najiah ialah pengikut para sahabat Rasulullah sallallahu 'alaihi wa-sallam. Ia adalah syiar Ahli sunnah. Dinamakan Firqah an-Najiah kerana mereka itu terdiri dari Ahli Sunnah".[18]

3. Ahli Ittiba'. Dinamakan Ahli Ittiba' kerana sentiasa berittiba' (mengikuti/mematuhi/mentaati) al-Quran, as-Sunnah Rasulullah sallallhu ‘alaihi wa-sallam serta athar para sahabat radiallahu 'anhum yang sahih.

4. Al Guraba' (الغرباء) bermaksud: "Golongan yang anih, asing, luar biasa, dagang atau sedikit" sebagaimana sabda Rasulullah sallallahu ‘alaihi wa-sallam:

بَدَاَ اْلاِسْلاَمُ غَرِيْبًا سَيَعُوْدُ غَرِيْبًا كَمَا بَدَأ فَطُوْبَى للغُرِبَاءِ.

"Islam itu bermula dengan keadaan aneh (asing/luar biasa) maka akan kembali menjadi aneh (asing/luar biasa) maka berbahagialah orang yang asing itu".[19]

نُقِلَ عَنْ سُفْيَانِ الثَّوْرِيِّ اَنَّهُ قَالَ : اِسْتَوْصُوْا بِاَهْلِ السُّنَّةِ خَيْرًا فَاِنَّهُمْ غُرَبَاءُ.

"Dinukil dari Sufyian ath-Thauri beliau berkata: Berwasiatlah kamu kepada Ahli Sunnah dengan kebaikan kerana mereka guraba".

Dengan penjelasan ini, golongan yang paling tepat dinamakan al-Jamaah atau Ahli Sunnah wal-Jamaah, Firqah an-Najiah atau nama-nama yang berkaitan dengan Jamaah Islamiyah, maka mereka ialah para sahabat, tabiin, tabiut at-tabiin dan sesiapa sahaja yang mengikut manhaj para sahabat dengan baik, terutama kalangan ulamak mujtahid yang berpegang kepada manhaj al-Kitab dan as-Sunnah.[20]

Gelaran Ahli Sunnah wal-Jamaah muncul diakhir zaman sahabat, ini berdasarkan keterangan yang diambil dari athar Ibn Abbas apabila beliau menafsirkian Firman Allah:[21]

يَوْمَ تَبْيَضُّ وُجُوْهٌ وَتَسْوَدُّ وُجُوْهٌ.

"Pada hari yang diwaktu itu ada muka yang putih berseri dan ada pula muka yang hitam muram". Ali Imran, 3:106.

Menurut Ibn Abbas radiallahu ‘anhu:

"Adapun orang yang putih berseri-seri mukanya ialah Ahli Sunnah wal-Jamaah dan Ulul al-Ilm dan yang hitam muram mukanya ialah Ahli bid'ah atau orang yang sesat".[22]

Dengan berpandukan dalil dan keterangan di atas, amat tepat pengistilahan yang menetapkan bahawa orang yang paling berhak dan layak digelar atau dinamakan Ahli Sunnah Wal-Jamaah ialah sesiapa sahaja yang berpegang teguh (ittiba') kepada manhaj para sahabat, tabiin dan tabiut at-tabiin yang diistilahkan sebagai "Manhaj Salaf As-Soleh". Oleh itu, sesiapa yang tidak berpegang kepada manhaj Salaf as-Soleh adalah golongan yang berpecah (terkeluar) dari Ahli Sunnah wal-Jamaah sebagaimana yang telah disabdakan oleh Rasulullah sallallahu 'alaihi wa-sallam:

لَتَفْتَرِقَنَّ اُمَّتِيْ عَلَى ثَلاَثِ وَسَبْعِيْنَ فِرْقَةً وَاحِدَة فِى الْجَنَّةِ وَثِنْتَانِ وَسَبْعُوْنَ فِى النَّارِ . قِيْلَ : مَنْ هُمْ ؟ قَالَ : اَلْجَمَاعَة.

"Pasti akan berpecah-belah umatku kepada 73 firqah, hanya satu ke syurga dan 72 ke neraka. Baginda ditanya: Siapa mereka (yang ke syurga) wahai Rasulullah? Baginda bersabda: al-Jamaah".[23]

Dalil yang menjelaskan bahawa hanya sesiapa yang berpegang dan kembali kepada al-Quran, sunnah Rasulullah dan athar sahabat berhak dinamakan Ahli Sunnah wal-Jamaah yang bermanhaj salaf ialah berdasarkan hadis sahih:

مَا اَنَا عَلَيْهِ الْيَوْم وَاَصْحَابِيْ.

"(Al-Jamaah) ialah sesiapa yang seperti aku sekarang dan para sahabatku".[24]

Adalah wajib bagi setiap mukmin menjadikan akidah dan amalannya seperti yang diyakini dan dicontohkan oleh para Ahli Sunnah wa-Jamaah yang bermanhaj salaf, iaitu manhaj yang diikuti oleh para sahabat, tabiin, tabiut at-tabiin dan sesiapa saja yang mengikuti mereka dengan baik. Firman Allah:

وَكُوْنُوْا مَعَ الصَّادِقِيْنَ

"Dan hendaklah kamu bersama orang-orang siddiqin (yang benar)".

At-Taha, 20:119.

Orang-orang utama yang telah mendapat gelaran dan penghormatan sebagai syuhada', solehin dan siddiqin ialah para sahabat, maka untuk digolongkan sebagai Ahli Sunnah wal-Jamaah yang diterima oleh syara, sewajarnya seseorang itu memenuhi pensyaratan yang ditetapkan oleh hujjah-hujjah di atas, iaitu kembali kepada manhaj yang diterima oleh Rasulullah yang telah dipegang dan diamalkan oleh para sahabat. Caranya hanya dengan mengikuti, kembali dan mentaati al-Quran, as-sunnah atau wahyu yang diturunkan kepada Nabi Muhammad sallallahu 'alaihi wa-sallam.

Suruhan atau perintah agar bepegang teguh dengan sunnah Rasulullah dan athar para sahabat sebagai manhaj yang terjamin terdapat di dalam al-Quran, hadith-hadith dan athar yang sahih, antaranya ialah firman Allah:

وَاتَّبِعْ سَبِيْلَ مَنْ اَنَابَ

"Dan ikutilah jalan orang-orang yang kembali kepadaKu".

Luqman, 31:15.

Orang-orang yang benar-benar mengikuti dan kembali ke jalan Allah Suhanahu wa-Ta'ala tentulah Rasulullah sallallahu 'alaihi wa-sallam dan para sahabat baginda kerana mereka sentiasa mematuhi firman Allah:

اِتَّبِعُوْا مَا اُنْزِلَ اِلَيْكُمْ مِنْ رَبِّكُمْ وَلاَ تَتَّبِعُوْا مِنْ دُوْنِهِ اَوْلِيَاءَ قَلِيْلاً مَا تَذَكَّرُوْنَ.

"Ikutlah oleh kamu apa yang telah diturunkan kepada kamu dari Tuhanmu dan janganlah kamu mengikuti pemimpin-pemimpin selainNya. Amat sedikit dari kamu mengambil pelajaran (daripadanya)". Al-'Araf, 7:3.

Pengertian "Mengikut apa yang telah diturunkan" sebagaimana yang dimaksudkan oleh ayat di atas ialah mengikut atau kembali kepada wahyu yang berupa al-Quran dan hadis Rasulullah sallallahu 'alaihi wa-sallam. Hadis atau kata-kata Rasulullah sallallahu 'alaihi wa-sallam dinamakan sebagai wahyu berdasarkan ayat al-Quran:

وَمَا يَنْطِقُ عَنِ الْهَوَى اِنْ هُوَ اِلاَّ وَحْيٌ يُوْحَى

"Dan tiadalah yang diucapkannya itu (Al-Quran) menurut kamahuan hawa nafsunya. Ucapannya itu tiada lain hanya wahyu yang dibawakan (kepadanya)". An-Najm, 53:3-4.

Semasa Rasulullah ingin menyampaikan wasiat agar umat Islam benar-benar kembali kepada manhaj Ahli Sunnah wal-Jamaah dan meninggalkan Ahli bid'ah, tanda-tanda kesungguhan yang tergambar di wajah Rasulullah telah merubah suasana dan keadaan para sahabat di ketika itu, sehingga menggegarkan hati para sahabat dan mengalirkan air-mata mereka. Kejadian tersebut telah menunjukkan peripentingnya umat Islam berpegang dan kembali kepada pegangan Ahli Sunnah wal-Jamaah yang menjadi manhaj para sahabat sekalian. Rasulullah berwasiat:

اُوْصِيْكُمْ بِتَقْوَى اللهِ وَالسَّـمْعِ وَالطَّاعَةِ وَاِنْ وَلَّى عَلَيْكُمْ عَبْدٌ حَبَشِيٌّ ، وَاِنَّهُ مَنْ يَعِشْ مِنْكُمْ مِنْ بَعْدِيْ فَسَيَرَى اخْتِلاَفًا كَثِيْرًا ، فَعَلَيْكُمْ بِسُنَّتِيْ وَسُنَّةِ الْخُلَفَاءِ الرَّاشِدِيْنَ الْمَهْدِيِّيْنَ مِنْ بَعْدِيْ ، تَمَسَّكُوْابِهَاوَعَضُّوْا عَلَيْهَا بِالنَّوَاجِذِ ، وَاِيَّاكُمْ وَمُحْدَثَاتِ الاُمُوْرِ، فَاِنَّ كُلَّ مُحْدَثَةٍ بِدْعَةٌ ، وَكُلَّ بِدْعَةٍ ضَـلاَلَةٌ ، وَكُلَّ ضَـلاَلَةٍ فِى النَّارِ.

"Rasulullah sallallahu 'alaihi wa-sallam telah memberi peringatan kepada kami sehingga membuat hati kami bergetar dan air mata berlinangan. Kami berkata: Wahai Rasulullah! Seakan-akan ini wasiat perpisahan maka berwasiatlah kepada kami. Baginda bersabda: Aku wasiatkan kepada kamu agar tetap bertakwa kepada Allah, sentiasa mendengar dan taat walaupun yang memimpin kamu adalah seorang hamba Habsyi. Sesungguhnya sesiapa yang hidup antara kamu selepasku akan melihat ikhtilaf yang banyak, maka hendaklah kamu mengikuti sunnahku dan sunnah Khulafa ar-Rasyidin yang mendapat petunjuk. Peganglah ia dan gigitlah dengan gigi geraham. Aku peringatkan kamu tentang benda-benda yang baru kerana setiap yang baru itu bid'ah dan setiap yan بِسْـمِ اللهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيْمِ


Istilah ahlisunnah wal jamaah digunakan oleh Rasulullah SAW untuk menyebutkan semua umat Islam yang secara aqidah berpegang teguh kepada apa yang beliau ajarkan (sunnah) serta yang diajarkan oleh para shahabat beliau (jamaah). Jadi apapun nama organisasi atau partainya, asalkan pemahaman aqidahnya sesuai dengan sunnah Rasulullah SAW (yang diajarkan beliau) dan jamaah (apa yang diajarkan oleh para shahabat beliau), maka mereka semua adalah ahlus sunnah wal jamaah.

Maka nama-nama yang anda sebutkan seperti Muhammadiyah, Persis, Ahmadiyah, LDII, Islam Jamaat, Khurij dan ribuan nama lainnya bisa dikatakan sebagai ahlussunnah wal jamaah manakala mereka memiliki prinsip aqidah yang seusai dengan apa yang diajarkan oleh Rasulullah SAW dan para shahabatnya. Sebaliknya, bila mereka mengajarkan aqidah yang menyimpang dari apa yang diajarkan oleh Rasulullah SAW dan para shahabatnya, maka pada titik penyimpangan itu mereka bukanlah bagian dari ahlussunnah wal jamaah.

Misalnya, bila ada di antara jutaan organisasi itu yang mengingkari Allah SWT sebagai tuhan dengan segala nama dan sifat-Nya, atau mengingkari kenabian Muhammad, atau mengatakan adanya nabi sepeninggal beliau, atau mengingkari kebenaran Al-Quran dan hadits, atau mengingkari adanya hari kiamat, atau mengingkari keberadaan surga dan neraka, qadha dan qadar serta apa-apa yang Allah SWT tegaskan dalam kitab-Nya, maka itu adalah penyimpangan aqidah.