Wednesday, February 10, 2010

Memohon Husnul Khatimah

Rabu, 10 Februari 2010/25 Safar 1431

1. Kita diingatkan supaya selalu berdoa untu mempohon agar Allah swt mematikan kita dalam Husnul- Khatimah. Pada hampir akhir hayat kita kita mengharapak mati dalam keimanan dengan membabkan kita tidak ingat dan mengaku ketahuhidan Alalah swt.

2. Kita hendaklah selalu memperbanyakkan mengucapkan kepujian dan kesyukuran kepada Allah atas nikmat Islam yang diberikan yang meupakan setinggi-tinggi dan sebesar-besar nikmat.Keran tidak mustahil Allah boleh meeobah hati kita kerana Dia yan berkuas memeberikan petunjuk kepada siapa yang Dia sukai dan menyesatkan siapa ynag Dia sukai.

3. Dalam sebuah hadis shaih , Rasulullah saw telah bersabda yang bermaksud:

"Bahawasanya Dialah Tuhan, tiada Tuhan lain melainkan Dia. Adakah seseorang kamu akan beramal dengan amal ahli syurga , sehingga jarak anataranya dengan syurga itu hanya sehasta saja, tiba-tiba kitabnya telah mendahuluinya , lalu ia pun beamal dengan amalan ahli neraka.Maka ia akan masuk ke dalam neraka. Dan adalah seseorang kamu akan beramal dengan amalan ahli neraka, sehingga jarak anataranya dengan neraka itu hanya sehasta saja tiba-tiba kitabnya telah mendahuluinya , lalu ia pun beramal dengan amalkan ahli syurga, maka ia akan masuk syurga".

4. Di antara yang sangat ditakuti orang muslim ialah ditimpa Suul Khatimah iaitu dengan melakukan bidah dlam agama dan mengerja laangan Allah swt.


Baik sekali doa di bawah ini (Al Baqaah ayat 193 dan 194) dibaca pada setiap kesempatan, tapi lebih utama pada waktu tengah malam (sepertiga malam) sampai menjelang shubuh. Karena ayat ini pula yang dibaca Nabi Saw. ketika bangun dari tidurnya sambil memandang langit. Demikian peielasan Al-Bukhârî dari Ibnu ‘Abbâs

" Ya Tuhan Kami, Sesungguhnya Kami mendengar (seruan) yang menyeru kepada iman, (yaitu): “Berimanlah kamu kepada Tuhanmu”, Maka Kamipun beriman. Ya Tuhan Kami, ampunilah bagi Kami dosa-dosa Kami dan hapuskanlah dari Kami kesalahan-kesalahan Kami, dan wafatkanlah Kami beserta orang-orang yang banyak berbakti.

Ya Tuhan Kami, berilah Kami apa yang telah Engkau janjikan kepada Kami dengan perantaraan Rasul-rasul Engkau. dan janganlah Engkau hinakan Kami di hari kiamat. Sesungguhnya Engkau tidak menyalahi janji.”

5. Khusnul khatimah dan tanda-tandanya:

1. Hadits pertama dari Mu’adz, dia berkata, Rasulullah bersabda: “Barangsiapa akhir ucapannya di dunia ini adalah Laa Ilaha Ilallah, dia masuk sorga.” (HR. Abu Dawud, dan al-Hakim)
2. Hadits kedua dari Buraidah ibn Hushaib dia berkata, aku mendengar Rasulullah bersabda: “Kematian seorang mukmin (ditandai dengan) keringat di dahi.” (HR. Ahmad, Nasa’i, Turmudzi dan lainnya)
3. Hadits ketiga dari Abdullah ibn ‘Amr, dia berkata, Rasulullah bersabda: “Tidak ada seorang muslimpun yang meninggal pada hari jum’at atau malam jum’at melainkan dia akan dibebaskan dari siksa kubur.” (HR. Turmudzi)
4. Dan di antara tanda khusnul khatimah adalah mati di saat menjalankan keta’atan kepada Allah dan rasul-Nya, seperti meninggal dalam keadaan shalat, atau puasa, atau haji, umrah atau dalam keadaan berjihad di jalan Allah atau dalam dakwah kepada Allah. Dan barangsiapa dikehendaki baik oleh Allah, Dia akan memberinya taufik untuk beramal shalih kemudian mencabut nyawanya.
5. Pujian baik oleh sekumpulan kaum muslimin atasnya, berdasarkan hadits Anas, dia berkata, (Para sahabat) pernah melewati sebuah jenazah, kemudian mereka memuji kebaikan atasnya. Maka Nabi bersabda: “Wajib.” Kemudian mereka melewati sebuah jenazah yang lain, lalu mereka mengutarakan keburukannya. Maka Nabi bersabda: “Wajib.” Maka Umar berkata: “Apa yang wajib?” Beliau bersabda:
“Yang ini kalian menyebut baik atasnya, maka wajib baginya sorga, sementara yang itu kalian menyebut buruk atasnya maka wajib baginya neraka, kalian adalah saksi Allah di bumi-Nya.” (HR. Bukhari Muslim)
6. Tanda-tanda yang bisa dilihat dari si mayit setelah kematiannya:
a. Senyuman di wajah
b. Terangkatnyajari telunjuk, yang menunjukkan syahadat tauhid
c. Bersinar, dan bercahayanya wajah karena kegembiraan menerima kabar gembira yang didengarnya dari malaikat maut.

Adapun tanda su’ul khatimah banyak dan bermacam-macam, di antaranya:
1. Mati di atas kesyirikan, atau meninggalkan shalat dengan meremehkan perintah-perintah Allah dan rasul-Nya, begitupula mereka yang mati saat mendengarkan nyanyian (musik), suara seruling, sinema, atau film komedi, dan mereka yang mati di atas perbuatan-perbuatan keji secara umum, begitupula yang mati dengan khamr (miras) dan narkoba.
2. Di antara tanda yang tampak pada mayat setelah kematiannya adalah; murung, gelap dan menghitamnya wajah, karena kengerian yang dirasakan saat mendengar berita buruk tentang murka Allah dari malaikat maut. Kadang-kadang warna hitam ini menyelimuti seluruh tubuh -wal ‘iyadzu billah-.

Seoramng itu belu bertaubat dai meninggalakna peintah Allah seperti tidalk melakukan solat,. kerana solat adalah tiang agama Islam, dan sesungguhnya (pembatas) antara seseorang dengan kekufuran adalah meninggalkan solat sebagaimana suri tauladan dan Nabi kita Muhammad telah mengajarkan: “Perjanjian antara kita dan mereka (orang-orang munafik) adalah solat, maka barangsiapa meninggalkannya, dia telah kufur.” (HR. Ahmad dan Malik)

Sollat adalah sebenar-benar perisai bagi pelakunya, dialah pencegah dari perbuatan keji dan munkar, Allah berfirman : “Sesungguhnya solat itu mencegah dari (perbuatan-perbuatan) keji dan mungkar.” (QS. Al-Ankabut: 45)



Adapun orang yang berpaling dari kebaikan ini, dan dia meninggalkan solat, maka tanda-tanda su’ul khatimahnya adalah hitam yang menyelimuti seluruh tubuhnya saat jenazahnya dimandikan. Kita berlindung kepada Allah dari kehinaan.

Tuesday, February 9, 2010

Berbakti kepada kedua ibu bapa

Selasa, 9 Februari 2010/24 Safar 1431


Firman Allah swt, Surah Al-Ahqaf: 15 yang bermaksud:

"Dan kami mewasiatkan (memerintahkan) kepada manusia supaya berbuat baik kepada kedua ibu-bapanya, ibunya teah mengandungnya dengan menanggung susah payah dan melahirkannya juga dengan menanggung susah-payah".

Sehubungan dengan ayat di atas, berkata Abdullah bin Mas'ud ra, " saaya pernah bertanya kepada Rasulllah saw kataku, " Amalan yang mana satu yang lebih dicintai Allah?.

Jawab Baginda, "Solat pada waktunya."

Tanyaku lagi, " Sesudah itu apa pula?"

Jawab Baginda, " Berbakti kepada kedua ibu bapa"

Tanyaku lagi, " Sesudah itu apa lagi?"

Jawab Baginda seterusnya, " Berjihad (berjuang) fi sabilillah".

Sabda rasulullah pula,

"Keredhaan Allah bergantung kepada redha kedua nibubapa, dan kemurkaan Allah bergantung kepada kemurkaan kedu ibu-bapa".

Sabdanya lagi;

" Berbaktilah kepada orang tuamu (ibu bapa) , niscaya anak-anak kamu akan berbakti kepada kamu. Dan peliharalah kehormatan isteri-isteri ornag lain, niscaya isteri-isteri kamu akan memelihara kehormatan mereka".

Suatu riwayat menytakan bahawasanya berbakti kepada ibu-bapa itu adalah lebih utama dari amalan Haji dan umrah dan berjihad fi sabilillah. Dan bhawasanya seseorang yang menderhakai kedua ibu-bapanya, Allah tiada ingin elihat kepdanya pada hari kiamat, dan bahawasanya ia tiada akan mencium bau syurga.

Monday, February 8, 2010

Isnin, 8 Februari, 2010/22 Safar 1431

Salam

Saturday, February 6, 2010

Ibnu' Abbas

Sabtu, 6 Februari, 2010/21 Safar 1431

Riwayat Hidup: ‘ABDULLAH BIN ‘ABBAS (Ibnu 'Abbas)
(Wafat tahun 68H. berumur 71b tahun)

1.Abdullah bin Abbas adalah sahabat kelima yang banyak meriwayatkan hadist sesudah Sayyidah Aisyah, ia meriwayatkan 1.660 hadits. Dia adalah putera Abbas bin Abdul Mutthalib bin Hasyim, paman Rasulullah dan ibunya adalah Ummul Fadl Lababah binti harits saudari ummul mukminin Maimunah.

Sahabat yang mempunyai kedudukan yang sangat terpandang ini dijuluki dengan Informan Umat Islam. Beliaulah asal silsilah khalifah Daulat Abbasiah. Dia dilahirkan di Mekah dan besar di saat munculnya Islam, di mana beliau terus mendampingi Rasulullah sehingga beliau mempunyai banyak riwayat hadis sahih dari Rasulullah . Beliau ikut di barisan Ali bin Abi Thalib dalam perang Jamal dan perang Shiffin. Beliau ini adalah pakar fikih, genetis Arab, peperangan dan sejarah. Di akhir hidupnya dia mengalami kebutaan, sehingga dia tinggal di Taif sampai akhir hayatnya.
Beliau adalah anak bapa saudara (sepupu) Rasulullah SAW, lahir tiga tahun sebelum hijrah. Beliau hidup bersama Rasulullah SAW dan ‘nyantri’ karena ia adalah anak bapa sudara (sepupunya), sedangkan bibinya Maimunah di tanggung oleh Nabi SAW. Rasulullah pernah merengkuhnya ke dada beliau seraya berdoa, “Ya Allah, ajarilah ia al-Hikmah.” Dalam suatu riwayat disebutkan, “(Ajarilah ia) al-Kitab (al-Qur’an).”

2. Sahabat yang mempunyai kedudukan yang sangat terpandang ini dijuluki dengan Informan Umat Islam. Beliaulah asal silsilah khalifah Daulat Abbasiah. Dia dilahirkan di Mekah dan besar di saat munculnya Islam, di mana beliau terus mendampingi Rasulullah sehingga beliau mempunyai banyak riwayat hadis sahih dari Rasulullah . Beliau ikut di barisan Ali bin Abi Thalib dalam perang Jamal dan perang Shiffin. Beliau ini adalah pakar fikih, genetis Arab, peperangan dan sejarah. Di akhir hidupnya dia mengalami kebutaan, sehingga dia tinggal di Taif sampai akhir hayatnya.

Ketika mengajarinya berwudlu beliau SAW berdoa, “Ya Allah, anugerahilah pemahaman agama kepadanya.” Berkat doa yang diberkahi ini, ia kemudian benar-benar menjadi ‘tinta’ nya Umat (lautan ilmu) di dalam menyebarkan tafsir dan fiqih. Allah menganugerahinya taufiq di dalam bergiat mendapatkan ilmu dan bersungguh-sungguh di dalam menuntutnya serta bersabar di dalam menerimanya. Dengan begitu, ia meraih kedudukan yang tinggi sampai-sampai Amirul Mukminin, ‘Umar bin al-Khaththab RA mengundangnya ke majlis-majlisnya dan mengambil pendapatnya. Orang-orang Muhajirin berkata (kepada ‘Umar), “Tidakkah engkau undang anak-anak kami sebagaimana engkau undang Ibn ‘Abbas.?” Maka, ia menjawab, “Itulah pemuda yang menginjak dewasa, yang memiliki lisan yang banyak bertanya dan hati yang banyak akalnya.”

3. Pada suatu hari, ‘Umar mengundang mereka, lalu tak berapa lama menghadirkan Ibn ‘Abbas bersama mereka untuk memperlihatkan kepada mereka kebenaran langkahnya tersebut. ‘Umar berkata, “Apa pendapat kalian mengenai firman Allah, “Bila telah datang pertolongan Allah dan Penaklukan.” (surat an-Nahsr hingga selesai). Maka, sebagian mereka berkata, “Kita diperintahkan agar memuji Allah dan meminta ampun kepada-Nya bila kita menang (dapat menaklukkan Mekkah).

” Sebagian lagi hanya terdiam saja. Lalu, ‘Umar pun berkata kepada Ibn ‘Abbas, “Apakah kamu juga mengatakan demikian.?” Ia menjawab, “Tidak.” Lalu ‘Umar bertanya, “Kalau begitu, apa yang akan kamu katakan.?” Ia menjawab, “Itu berkenaan dengan ajal Rasulullah SAW di mana Allah membeitahukan kepadanya bila telah datang pertolongan-Nya dan penaklukan kota Mekkah, maka itulah tanda ajalmu (Yakni Rasulullah-red.,), karena itu sucikanlah Dia dengan memuji Rabbmu dan minta ampunlah kepada-Nya karena Dia Maha Menerima taubat.” ‘Umar pun berkata, “Yang aku ketahui memang seperti yang engkau ketahui itu.” Ibn Mas’ud berkata, “Sebaik-baik Turjumaan al-Qur’an (penerjemah) adalah Ibn ‘Abbas. Andaikata ia seusia kami, niscaya tidak seorang pun dari kami yang menandinginya.” Padahal, Ibn ‘Abbas hidup setelahnya (Ibn Mas’ud) selama 36 tahun kemudian. Nah, bagaimana pendapat anda mengenai ilmu yang diraihnya setelah itu.?

Ibn ‘Umar pernah berkata kepada salah seorang yang bertanya mengenai suatu ayat kepadanya, “Berangkatlah menuju Ibn ‘Abbas lalu tanyakanlah kepadanya sebab ia adalah sisa shahabat yang masih hidup yang paling mengetahui wahyu yang diturunkn kepada Nabi SAW.”

‘Atha` berkata, “Aku tidak pernah melihat sekali pun ada suatu majlis yang lebih mulia dari majlis Ibn ‘Abbas dari sisi fiqih, demikian juga yang paling agung dari sisi wibawanya. Sesungguhnya para ahli fiqih berada di sisinya, para ahli Qur’an berada di sisinya dan para ahli sya’ir juga berada di sisinya. Ia menimbakan untuk mereka semua dari lembah yang luas.” (alias mengajarkan ilmu yang banyak-red.,)


Abdullah lahir tiga tahun sebelum hijrah dan Nabi Shallallahu Alaihi Wassalam mendoakannya “Ya Allah berilah ia pengertian dalam bidang agama dan berilah ia pengetahuan takwil (tafsir)”.Allah mengabulkan doa Nabi-nya dan Ibnu Abbas belakangan terkenal dengan penguasaan ilmunya yang luas dan pengetahuan fikihnya yang mendalam , menjadikannya orang yang dicari untuk di mintai fatwa penting sesudah Abdullah bin Mas’ud, selama kurang lebih tiga puluh tahun. tentang Ibnu Abbas, Ubaidullah bin Abdullah bin Utbah berkata :”Tak pernah aku melihat seseorang yang lebih mengerti dari pada Ibnu Abbas tentang ilmu hadits Nabi Shallallahu alaihi Wassalam serta keputusan2 yang dibuat Abubakar ,Umar , dan Utsman“.

Abu Wa`il berkata, “Saat Ibn ‘Abbas menjadi Amir haji atas perintah khalifah ‘Utsman, pernah ia berbicara kepada kami dengan membuka dengan surat an-Nur; membaca dan menafsirkannya. Selama ia begitu, aku pun bertutur pada diriku, ‘Aku tidak pernah melihat atau pun mendengar ucapan seseorang sepertinya. Andaikata didengar oleh orang-orang Persia, Romawi dan Turki (waktu sebelum Islam-red.,), pastilah mereka semua masuk Islam.”

6. RasuluLlah SAW sering terlihat berdua bersama si kecil AbduL
lah bin Abbas. Suatu ketika, misalnya, RasuluLlah SAW mengajak
Ibnu Abbas RA berjalan-jalan seraya menyampaikan tarbiyahnya
kepada pemuda cilik ini:

“Ya ghulam, maukah engkau mendengarkan beberapa kalimat
yang sangat berguna?

Jagalah ALlah SWT (ajaran-ajaranNya), maka engkau akan menda
patkanNya selalu menjagamu. Jagalah ALlah SWT (larangan-laran
ganNya), maka engkau akan mendapatkanNya selalu dekat di hadapan
mu. Kenalilah ALlah dalam sukamu, maka ALlah akan mengenalimu
dalam dukamu. Bila engkau meminta, mintalah kepada ALlah. Jika
engkau memerlukan pertolongan, mohonkanlah kepada ALlah. Semua
hal (yang terjadi denganmu) telah selesai ditulis. Ketahuilah,
seandainya semua makhluk bersepakat untuk membantumu dengan
apa yang tidak ditaqdirkan ALlah untukmu, mereka tidak akan
mampu membantumu. Atau bila mereka berkonspirasi untuk mengha
langi engkau mendapatkan apa yang ditaqdirkan untukmu, mereka
juga tidak akan dapat melakukannya. Semua aktifitasmu kerjakan
lah dengan keyakinan dan keikhlasan. Ketahuilah, bahwa bersabar
dalam musibah itu akan memberikan hasil positif; dan bahwa
kemenangan itu dicapai dengan kesabaran; dan bahwa kesuksesan
itu sering dilalui lewat tribulasi; dan bahwa kemudahan itu
tiba setelah kesulitan.
[Hadist Riwayat Ahmad, Hakim, Tirmidzi]

7.Begitu pula tentang ilmu fikih ,tafsir ,bahasa arab , sya’ir , ilmu hitung dan fara’id. Orang suatu hari menyaksikan ia duduk membicarakan ilmu fiqih, satu hari untuk tafsir, satu hari lain untuk masalah peperangan, satu hari untuk syair dan memperbincangkan bahasa Arab. Sama sekali aku tidak pernah melihat ada orang alim duduk mendengarkan pembicaraan beliau begitu khusu’ nya kecuali kepada beliau. Dan setiap pertanyaan orang kepada beliau, pasti ada jawabannya”.

Menurut An-Nasa’I, sanad hadits Ibnu Abbas paling Shahih adalah yang diriwayatkan oleh az-Zuhri, dari Ubaidullah bin Abdullah bin ‘Utba, dari Ibnu abbas. Sedangkan yang paling Dlaif adalah yang diriwayatkan oleh Muhammad bin Marwan as-Suddi Ash-Shaghir dan Al-Kalabi, dari Abi Shalih. Rangkaian ini disebut silsilah Al-Kadzib (silsilah bohong).

8. Demikianlah rangkaian prinsip aqidah, ilmu dan ‘amal yang
manakah hasil tarbiyah RasuluLlah itu? AbduLlah bin Abbas tumbuh
menjadi seorang muslim yang penuh inisiatif, haus ilmu, dekat
dengan ALlah dan Rasul-Nya.

Suatu ketika, Ibnu Abbas ingin mengetahui secara langsung
bagaimana cara RasuluLlah shalat. Untuk itu, ia sengaja menginap
di rumah bibinya: ummahatul mu’minin, Maimunah bint al-Harist.
Ketika itu ia melihat RasuluLlah bangun tengah malam dan pergi
berwudhu. Dengan sigap Ibnu Abbas membawakan air untuk berwudhu,
dengan demikian ia dapat melihat sendiri bagaimana RasuluLlah
berwudhu. RasuluLlah – sang murobbi agung itu – tidak menyepele
kan hal ini, beliau mengelus dengan lembut kepala Ibnu Abbas,
seraya mendo’akan: “Ya ALlah, faqih-kanlah ia dalam perkara
agama-Mu, dan ajarilah ia tafsir Kitab-Mu.”

Kemudian RasuluLlah berdiri untuk sholat lail yang dimakmumi
oleh isteri beliau, Maimunah. Ibnu Abbas tak tinggal diam, dia
segera berdiri di belakang RasuluLlah SAW; tetapi RasuluLlah
kemudian menariknya agar ia berdiri sedikit berjajar dengannya.
Ibnu Abbas berdiri sejajar dengan RasuluLlah, tetapi kemudian ia
mundur lagi ke shaf belakang. Seusai sholat, RasuluLlah memper
tanyakan sikap Ibnu Abbas ini, dan dijawab oleh Ibnu Abbas bahwa
rasanya tak pantas dirinya berdiri sejajar dengan seorang Utusan
ALlah SWT. RasuluLlah ternyata tidak memarahinya, bahkan beliau
mengulangi do’anya ketika berwudhu tadi.

Ketika Ibnu Abbas berusia 13 tahun, RasuluLlah wafat. Beliau
sangat merasa kehilangan. Tapi hal ini tidak menjadikannya berse
dih atau lemah. Dengan segera ia mengajak teman sebayanya untuk
bertanya dan belajar pada sahabat-sahabat senior mengenai apa
saja yang berkenaan dengan RasuluLlah dan ajaran al-Islam. Logika
Ibnu Abbas, saat itu mengatakan bahwa para sahabat masih berada
di Madinah, inilah kesempatan terbaik untuk menimba ilmu dan
informasi dari mereka, sebelum mereka berpencaran ke kota-kota
lain atau sebelum mereka wafat. Namun sayang, ajakan ini tidak
ditanggapi oleh rekan-rekan sebayanya, karena mereka rata-rata
beranggapan bahwa para sahabat senior tidak akan memperhatikan
pertanyaan anak-anak kecil macam mereka.

Ibnu Abbas tak patah arang. Beliau sendiri mendatangi para
sahabat yang diperkirakan mengetahui apa saja yang ingin ia
tanyakan. Dengan sabar, beliau menunggu para sahabat pulang dari
kerja keseharian atau da’wahnya. Bahkan kalau sahabat tadi kebet
ulan sedang berisitirahat, Ibnu Abbas dengan sabar menanti di
depan pintu rumahnya, hingga tertidur, tergolek beralaskan pakai
annya. Tentu saja para sahabat terkejut menemui Ibnu Abbas terti
dur di muka rumahnya, “Oh keponakan RasuluLlah, ada apa gerangan?
Kenapa tidak kami saja yang datang menemuimu, bila engkau ada
keperluan?” “Tidak,”kata Ibnu Abbas, “sayalah yang harus datang
menemui anda.”

Demikianlah masa kecil Ibnu Abbas. Bagaimana dengan masa
dewasanya?

beliau katakan sebagai seorang muda yang berwawasan dewasa, yang
lisannya selalu bertanya dan qalbunya selalu mencerna. Umar bin
Khattab selalu mengundang Ibnu Abbas dalam majelis syuro’nya
dengan beberapa sahabat senior, dan beliau selalu berkata kepada
Ibnu Abbas agar ia tidak perlu sungkan menyampaikan pendapat.
Inilah bentuk tarbiyah lain yang diperoleh oleh Ibnu Abbas,
dengan selalu berada dalam kalangan sahabat senior.

Dalam masa kekhalifahan Utsman bin Affan RA, beliau berga
bung dengan pasukan muslimin yang berekspedisi ke Afrika Utara,
di bawah pimpinan AbduLlah bin Abi-Sarh. Beliau terlibat dalam
pertempuran dan juga dalam da’wah di sana. Di masa pemerintahan
Ali bin Abi Thalib RA, Ibnu Abbas mengajukan permohonan untuk
menemui dan berda’wah kepada kaum Khawarij. Melalui dialog dan
diskusinya yang intens, sekitar 12.000 dari 16.000 khawarij
bertaubat dan kembali kepada ajaran Islam yang benar.

9. . Ibnu Abbas mengikuti Perang Hunain, Thaif, Penaklukan Makkah dan haji wada’. Ia menyaksikan penaklukan Afrika bersama Ibnu Abu as-Sarah. Perang Jamal dan Perang Shiffin bersama Ali bin Abi Thalib.

Saat ia diangkat jadi Amir haji tersebut oleh khalifah ‘Utsman itu adalah tahun 35 H, lalu diangkat jadi penguasa di Bashrah oleh khalifah ‘Aly bin Abi Thalib namun tatkala ia (‘Aly) meninggal karena terbunuh, ia pulang ke Hijaz, bermukim di Mekkah kemudian keluar dari sana menuju Tha`if dan wafat di sana pada tahun 68 H dalam usia 71 tahun.

Friday, February 5, 2010

Ilmu Al Quran

Jumaaat, 5 januari, 2010/ 20 Safar 1431

Alquran adlah mukjizat Islam yg kekal dan mukjizatnya selalu diperkuat oleh kemajuan ilmu pengetahuan. Ia diturunkan Allah kepada Rasulullah saw., utk mengeluarkan manusia dari suasana gelap menuju terang serta membimbing mereka ke jalan yg lurus. Rasulullah saw. menyampaikan Alquran kepada para sahabatnya orang Arab asli. Sehingga mereka dapat memahaminya berdasarkan nalurinya. Bila mengalami ketidakjelasan dalam memahami suatu ayat mereka menanyakannya kepada Rasulullah saw.

Pengertian Pertumbuhan dan Perkembangannya Imam Bukhari Imam Muslim dan yg lainnya meriwayatkan dari Ibnu Mas’ud r.a. katanya Ketika ayat yg artinya ‘Orang-orang yg beriman dan tidak mencampuradukkan iman mereka dgn kezaliman’ diturunkan banyak orang yg merasa resah. Mereka kemudian menanyakannya kepada Rasulullah saw. Ya Rasulullah saw. siapakah di antara kita yg tidak berbuat kezaliman terhadap dirinya? Nabi menjawab Kezaliman di sini bukan seperti yg kamu pahami. Tidakkah kamu pernah mendengar apa yg telah dikatakan oleh seorang hamba Allah yg saleh ‘Sesungguhnya kemusyrikan adl kezaliman yg besar’. . Jadi yg dimaksud dgn kezaliman di sini adl kemusyrikan.

Disamping itu Rasulullah saw. juga menafsirkan utk mereka beberapa ayat.

Dalam riwayat Muslim dan yg lainnya dari Uqbah bin Amir berkata Aku pernah mendengar Rasulullah saw. berkata di atas mimbar yg artinya ‘Dan siapkanlah utk menghadapi mereka kekuatan yg kamu sanggupi.’ {Al-Anfal 60}. Ingatlah bahwa kekuatan di sini adl memanah.

Para sahabat sangat antusias utk menerima Alquran dari Rasulullah saw.

menghafal dan memahaminya. Ini merupakan suatu kehormatan bagi mereka. Anas r.a. berkata Seseorang di antara kami bila telah membaca surah Al-Baqarah dan Ali Imran orang itu menjadi besar dalam pandangan kami. Begitu pula mereka selalu berusha mengamalkan Alquran dan memahami hukum-hukumnya.

Diriwayatkan dari Abu Abdurrahman as-Sulami yg mengatakan Mereka yg membacakan Alquran kepada kami seperti Utsman bin Affan dan Abdullah bin Mas’ud serta yg lain menceritakan bahwa bila mereka belajar dari Nabi sepuluh ayat mereka tidak melanjutkannya sebelum mengamalkan ilmu dan amal yg ada di dalamnya. Mereka berkata ‘Kami mempelajari Alquran berikut ilmu dan amalnya sekaligus’.

Rasulullah saw. tidak mengizinkan mereka menuliskan sesuatu dari dirinya selain Alquran krn beliau khawatir akan tercampur dgn yg lain.

Muslim meriwayatkan dari Abu Said al-Khudri Rasulullah saw. bersabda Janganlah kamu menulis dari aku. Barang siapa menulis dari aku selain Alquran hendaklah dihapus. Dan ceritakan apa yg dariku dan itu tiada halangan baginya. Dan barang siapa yg sengaja berdusta atas namaku ia menempati tempatnya di api neraka.

Sekalipun setelah itu Rasulullah saw. mengizinkan kepada sebagian sahabat utk menulis hadis tetapi hal yg berhubungan dgn Alquran tetap didasarkan pada riwayat yg melalui petunjuk di zaman Rasulullah saw. di masa kekhalifahan Abu Bakar dan Umar ra.

Kemudian datang masa kekhalifahan Utsman bin Affan r.a. dan keadaan menghendaki utk menyatukan kaum muslimin pada satu mushaf. Dan hal itu pun terlaksana. Mushaf itu disebut Mushaf Imam . Salinan-salinan mushaf itu juga dikirimkan ke beberapa provinsi.

Penulisan mushaf tersebut disebut Ar-Rasmu al-Utsmani yaitu dinisbatkan kepada Utsman. Dan ini dianggap sebagai permulaan dari ilmu rasmil quran.

Kemudian datang masa kekhalifahan Ali bin Abi Thalib r.a. Dan atas perintahnya Abul Aswad ad-Du’ali meletakkan kaidah-kaidah nahwu cara pengucapan yg tepat dan baku serta memberikan ketentuan-ketentuan harakat pada Alquran. Ini juga dianggap sebagai permulaan i’rabil quran.

Para sahabat senantiasa melanjutkan usaha mereka dalam menyampaikan makna-makna Alquran dan penafsiran ayat-ayatnya yg berbeda-beda di antara mereka sesuai dgn kemampuannya yg berbeda-beda dalam memahami dan krn adanya perbedaan lama tidaknya mereka hidup bersama Rasulullah saw.

Hal yg demikian diteruskan oleh murid-murid mereka yaitu para tabi’in.

Di antara para mufassir yg termasyhur dari kalangan sahabat adl empat orang khalifah kemudian Ibnu Mas’ud Ibn Abbas Ubai bin Ka’ab Abdurrahman bin Auf Zaid bin Tsabit Abu Musa al-Asyari dan Abdullah bin Zubair.

Banyak riwayat mengenai tafsir yg diambil dari Abdullah bin Abbas dan Ubai bin Ka’ab. Dan apa yg diriwayatkan dari mereka tidak berarti sudah merupakan tafsir Alquran yg sempurna tetapi terbatas hanya pada makna beberapa ayat dgn penafsiran tentang apa yg masih samar dan penjelasan apa yg masih global. Mengenai para tabi’in di antara mereka ada satu kelompok terkenal yg mengambil ilmu ini dari para sahabat di samping mereka sendiri bersungguh-sungguh atau melakukan ijtihad dalam menafsirkan ayat.

Di antara murid-murid Ibnu Abbas di Mekah yg terkenal ialah Sa’id bin Jubair Mujahid Ikrimah bekas sahaya Ibnu Abbas Thawus bin Kisan al-Yamani dan Atha’ bin Abi Rabah. Sementara di antara murid-murid Ubay bin Ka’ab yg terkenal di Madinah adl Zaid bin Aslam Abul Aliyah dan Muhammad bin Ka’ab al-Qurazi. Di antara murid-murid Abdullah bin Mas’ud di Irak yg terkenal adl al-Qamah bin Qais Masruq Al-Aswad bin Yazid Amir Asy-Sya’bi Hasan al-Basri dan Qatadah bin Di’amah as-Sadusi.

Ibnu Taimiyah berkata Adapun mengenai ilmu tafsir orang yg paling tahu adl penduduk Mekah krn mereka sahabat Ibnu Abbas seperti Mujahid Atha’ bin Abi Rabah Ikrimah maula Ibnu Abbas lainnya seperti Thawus Abusy-Sya’sa Said bin Jubair dan lain-lainnya. Begitu pula penduduk Kufah dari sahabat Ibnu Mas’ud dan mereka itu mempunyai kelebihan dalam ilmu tafsir di antaranya adl Zubair bin Aslam Malik dan anaknya Abdurrahman serta Abdullah bin Wahb mereka berguru kepadanya. Dan yg diriwayatkan dari mereka itu semua meliputi ilmu tafsir ilmu gharibil quran ilmu makki wal madani dan ilmu nasikh dan mansukh. Tetapi semua ini didasarkan pada riwayat dgn cara didiktekan.

Pada abad ke-2 Hijriah tiba masa pembukuan yg yg dimulai dgn pembukuan hadis dgn segala babnya yg bermacam-macam dan itu juga menyangkut hal yg berhubungan dgn tafsir. Maka sebagian ulama membukukan tafsir Quran yg diriwayatkan dari Rasulullah saw. dari para sahabat atau dari para tabi’in. Di antara mereka itu yg terkenal adl Yazid bin Harun as-Sulami Syu’bah bin Hajjaj Waki’ bin Jarrah Sufyan bin Uyainah dan Abdurrazaq bin Hammam . Mereka semua adl para ahli hadis; tafsir yg mereka susun merupakan salah satu bagiannya. Namun tafsir mereka yg tertulis tidak ada yg sampai ke tangan kita. Kemudian langkah mereka itu diikuti oleh segolongan ulama. Mereka menyusun tafsir Alquran yg lbh sempurna berdasarkan susunan ayat. Dan yg paling terkenal di antara mereka adl Ibn Jarir at-Thabari .

Thursday, February 4, 2010

Beberapa hadis memgenai Bacaan Al Quran

Khamis, 4 Januari 2010/19 Safar 1431

1. Perintah untuk membiasakan membaca Alquran dan makruh mengatakan: Aku lupa ayat ini, tapi hendaklah berkata: aku itu dilupakan dariku

*

Hadis riwayat Aisyah ra.:
Bahwa Nabi saw. mendengar seorang laki-laki membaca Alquran tengah malam. Beliau bersabda: Semoga Allah merahmatinya. Sungguh ia telah mengingatkan aku ayat ini dan ayat ini yang aku terlupa ayat surat ini dan surat ini. (Shahih Muslim No.1311)
*

Hadis riwayat Abdullah bin Umar ra.:
Bahwa Rasulullah saw. bersabda: Sesungguhnya perumpamaan orang yang hafal Alquran adalah seperti unta yang ditambatkan. Apabila ia menjaganya, maka unta itu akan tetap pada tempatnya dan apabila ia lepaskan ikatannya, maka ia akan pergi. (Shahih Muslim No.1313)
*

Hadis riwayat Abdullah bin Masud ra., ia berkata:
Rasulullah saw. bersabda: Yang terburuk seseorang di antara mereka adalah orang yang mengatakan: Aku lupa ayat ini ayat ini. Tetapi sebenarnya ia telah dibuat lupa. Ingatlah terus Alquran, sebab sesungguhnya ia lebih mudah lepas dari hati manusia dibandingkan (terlepasnya) unta dari tambatannya. (Shahih Muslim No.1314)
*

Hadis riwayat Abu Musa ra.:
Dari Nabi saw., beliau bersabda: Komitmenlah (tetaplah) kalian membaca Alquran ini, demi Zat yang jiwa Muhammad berada di tangan-Nya, sesungguhnya Alquran itu lebih cepat terlepas dibandingkan dengan (terlepasnya) unta dari tambatannya. (Shahih Muslim No.1317)

2. Sunat membaguskan suara ketika membaca Alquran

*

Hadis riwayat Abu Hurairah ra.:
Dari Nabi saw., beliau bersabda: Allah tidak mengizinkan sesuatu seperti Dia izinkan kepada nabi untuk melagukan bacaan Alquran. (Shahih Muslim No.1318)
*

Hadis riwayat Abu Musa ra., ia berkata:
Rasulullah saw. bersabda kepada Abu Musa: Kalau engkau melihat aku saat aku mendengarkan bacaanmu kemarin, sungguh engkau telah diberi seruling (maksudnya suara yang merdu) dari seruling keluarga Nabi Daud. (Shahih Muslim No.1322)

3. Mengenang bacaan Nabi saw. surat Al-Fath pada peristiwa penaklukan kota Mekah

*

Hadis riwayat Abdullah bin Mughaffal Al-Muzani ra., ia berkata:
Pada tahun penaklukan Mekah, Nabi saw. membaca surat Al-Fath dalam perjalanannya di atas hewan tumpangannya. Beliau mengulang-ulangi bacaannya. (Shahih Muslim No.1323)

4. Turunnya ketenangan berkat karena bacaan Alquran

*

Hadis riwayat Barra' bin Azib ra., ia berkata:
Salah seorang sahabat membaca surat Al-Kahfi dan di sisinya ada seekor kuda yang tertambat dengan tali panjang. Tiba-tiba awan menaunginya, lalu berputar dan mendekat sehingga kuda itu menghindar darinya. Pada pagi harinya sahabat itu datang menemui Nabi saw. dan menuturkan peristiwa yang dialaminya kepada beliau. Nabi saw. bersabda: Itu adalah sakinah (ketenangan) yang turun karena bacaan Alquran. (Shahih Muslim No.1325)

5. Keutamaan orang yang hafal Alquran

*

Hadis riwayat Abu Musa Al-Asy`ari ra., ia berkata:
Rasulullah saw. bersabda: Perumpamaan orang mukmin yang membaca Alquran adalah seperti perumpamaan buah utrujah, baunya harum dan rasanya enak. Perumpamaan orang mukmin yang tidak membaca Alquran adalah seperti buah kurma, tidak ada baunya sama sekali namun rasanya manis. Perumpamaan orang munafik yang membaca Alquran adalah seperti buah raihanah, baunya harum namun rasanya pahit. Sedangkan perumpamaan orang munafik yang tidak membaca Alquran adalah seperti buah peria, tidak ada baunya sama sekali dan rasanya pahit. (Shahih Muslim No.1328)

30. Keutamaan orang yang pandai membaca Alquran dan orang yang yatata`ta (tersendat-sendat) dalam membaca Alquran

*

Hadis riwayat Aisyah ra., ia berkata:
Rasulullah saw. bersabda: Orang yang pandai membaca Alquran akan bersama para rasul yang mulia dan taat-taat. Adapun orang yang membaca Alquran dengan tersendat-sendat karena sulit baginya membaca Alquran, maka ia mendapat dua pahala. (Shahih Muslim No.1329)

6. Sunat membaca Alquran di hadapan orang-orang yang pandai tentang Alquran meskipun yang membaca lebih utama dari yang mendengar bacaan

*

Hadis riwayat Anas bin Malik ra.:
Bahwa Rasulullah saw. bersabda kepada Ubay bin Kaab: Sesungguhnya Allah menyuruhku untuk membaca (Alquran) di hadapanmu. Ubay dengan nada agak tak percaya bertanya: Allah menyebut-nyebutku? Rasulullah saw. menjawab: Ya, Allah menyebut-nyebutmu. Seketika itu Ubay menangis, terharu. (Shahih Muslim No.1330)

7. Keutamaan mendengarkan Alquran dan meminta kepada orang yang hafal untuk membaca Alquran serta keutamaan menangis ketika membaca Alquran dan merenunginya

* Hadis riwayat Abdullah bin Masud ra., ia berkata:
Rasulullah saw. bersabda kepadaku: Bacakan Alquran kepadaku. Aku bertanya: Wahai Rasulullah, aku harus membacakan Alquran kepada baginda, sedangkan kepada bagidalah Alquran diturunkan? Rasulullah saw. bersabda: Sesungguhnya aku senang bila mendengarkan dari orang selainku. Kemudian aku membaca surat An-Nisa'. Ketika sampai pada ayat yang berbunyi: Maka bagaimanakah (halnya orang kafir nanti), jika Kami mendatangkan seorang saksi (rasul) dari tiap-tiap umat dan Kami mendatangkan engkau (Muhammad) sebagai saksi atas mereka itu (umatmu). Aku angkat kepalaku atau secara mendadak ada seseorang berada di sampingku. Dan ketika aku angkat kepalaku, aku melihat beliau mencucurkan air mata. (Shahih Muslim No.1332)
* Hadis riwayat Abdullah bin Masud ra., ia berkata:

Aku berada di Homs. Sebagian orang berkata kepadaku: Bacakan Alquran kepada kami. Lalu aku bacakan kepada mereka surat Yusuf. Lalu salah seorang dari kaum itu berkata: Demi Allah, bukan demikian surat ini diturunkan. Aku bilang padanya: Celaka engkau, demi Allah, sesungguhnya aku pernah membacakannya pada Rasulullah saw. Lelaki itu akhirnya berkata kepadaku: Engkau benar. (Shahih Muslim No.1334)

Wednesday, February 3, 2010

Mentaati Allah dan Mencintainya.

Rabu, 3 Februari 2010/18 safar 1431

Mentaati Allah dan Mencintainya.

Allah Yang Maha Besar ia itu pencipta sekalian makhluk dan manusia seluruhnya dikehendaki supaya beriman dan percaya bahawa Dia adalah Yang Maha Agung yang. yanah Khalik dan memiliki segalanya. Kita hendaklah mencintai Allah dan dan memperhambakan diri lebih dari sekaliannya. Caranya mencintNya.Hanya dengan itulah sahaja seorang itu layak mendapat keampunan dan keridhaan Allah swt,.

Firman Allah dalam Surah Ali Imran: 31-33 yang bermaksud:

"Katakalah (Wahai Muhammad) jika kamu kasihkan Allah maka, ikutilah Aku niscaya Allah mengasihi kamu dan mengampuni dosa-dosa kamu. Sesungguhnya Allah itu Maha Pengampun lagi Penyanyang(31).

Katakanlah juga taatilah kamu kepada Allah dan Rasul jika kamu berpaling sesungguhnya Allah tidak mengasihi orang kafir (32).

Sesungguhnya Allah telah memilih Nabi Adam dan Noh serta keluarga Nabi Ibrahim dan keluarga Imran di atasi orang lain dalam alam ini"(33).

- ( Ali Imran: 31-33)
Pengajarannya:

1. Kita hendaklah beriman kepada Allah swt, dengan mengikuti ajaran yang dibawa oleh Rasulullah saw. dan dilarang mengangkat orang kafir dari menjadi pemimpin, keculai dalam keadan tertentu seperti dalam masa ketakutan terhadap orang kafir sepertimana firman Allah ynag bermaksud:

" Kecuali kamu takut untuk memelihara sesuatu"

- (Surah Ali Imran: 28)

2. Nabi Adam, Noh, keluarga Nabi Ibrahim dan keluarga Imran telah dipilih oleh Allah dan dikurniakan kelebihan dari seklaian alam.

3. Allah swt, akan mengampunkan dosa-dosa orang-orang yang mentaati Allah dan RasulNya. Sebaliknya mereka yang mengingkarinya maka orang itu akan dibenci dan akan mendapat kemurkaan dan azab Allah swt.

(Diceritakan bahawa ayat ini diturunkan kerana Rasulullah mengajak beberapa orang pemim,pin Yahudi termasuk Kab bin AlShraf dan pengikut-pengikutnya supaya beriman kepada Allah, tetapi mereka menjawab dengan kata-kata angkuh membanggakan diri seperti yang diterangkan oleh Allah dalam surah Al Maidah ayat: 20, dengan FirmanNya ynag b emaksud:

"Kami adalah anak-anak Allah dan kesayangnnya", lalu Allah menyuruh Nabi saw berkata kepada mereka "Aku ini pesuruh Allah kepada kamu, maka berimanlah kamu kepada Nya jika kamu sebenarnya kesayangan Allah"